Gradasi Intensitas

          Gradasi intensitas adalah tingkat kekuatan pesan yang sampai kepada komunikan.

          Peralatan tubuh manusia terdiri dari dua jenis, yaitu peralatan jasmani (bersifat konkret) dan peralatan rohani (bersifat abstrak). Telinga, mata, mulut, hidung, kaki, tangan, dll adalah bagian dari peralatan jasmani manusia. Akal, budi, naluri, hati nurani adalah bagian dari peralatan ruhani manusia. Keduanya selalu beriringan dan tidak ada yang lebih dominan di antara keduanya. Peralatn rohani manusia berkembang berdasarkan kondisi lingkungan, pendidikan, baik formal maupun informal, dan interaksi kontinyu antara manusia dengan lingkungannya.

          Akal adalah salah satu peralatan rohani manusia yang berfungsi untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar, mengingat, menghubungkan, menganalisis dan menyimpulkan. Kemampuan akal manusia tergantung kepada luas pengalaman dan tingkat pendidikannya,formal maupun informal. Tidak ada  yang betul-betul sama.

          Budi : berfungsi untuk membedakan mana yang baik dan buruk (etika), indah/tidak indah(estetika), sopan /tidak sopan (etiket /perasaan tata krama kesopanan), adil atau tidak adil(perasaan keadilan)

          Budi adalah fungsi perasaan, anda dapat menyatakan bahwa keputusan yang diambil sdh seadil-adilnya, tp tidak menirut orang lain.

          Naluri : dorongan yang dibawa manusia sejak lahir untuk berprilaku tertentu. Naluri sering disebut jg instink, salah sat naluri misalnya adalah naluri ketuhanan, naluri kebahagiaan,naluri sosial, naluri ingin tahu, naluri komunikasi,

          Hati nurani adalah peralatan rohani manusia yang berfungsi sebagai pedoman manakala akal, budi, naluri tidak dapat memutuskan dan manusia berada dalam kebimbangan

          Hati nurani pada dasarnya adalah anggukan universal: pelanggaran terhadapnya adalah perendahan harkat dan martabat manusia.ia berlaku dimanapun, kapanpun, tanpa mengenal ras, golongan, maupun agama.

          Hati nurani bersifat personal : berkaitan erat dengan individu yang bersangkutan. Mewarnai kepribadian, hati nurani berkembang bersamaan dgn perkembangan usia, pendidikan dan pengalaman hidup manusia. HN hanya berbicara atas nama manusia pemiliknya.

Aside

Tips Komunikasi PR:

Mengelola Hubungan Konsumen di Media Sosial

Media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup, sejalan dengan hal tersebut, keberadaan konsumen Indonesia di dunia maya memang demikian substansial. Mereka telah menjadikan media sosial sebagai bagian dari gaya hidup dalam berbagi informasi, interaksi, dan diskusi antarkomunitasnya. Dengan demikian, hal tersebut juga mengubah perilaku konsumen dalam berhubungan dengan merek. Interaksi yang awalnya bersifat vertikal menjadi horizontal; dari awalnya satu arah menjadi dua arah; dari yang awalnya “one to many” menjadi “many to many”; dari awalnya “broadcasting” menjadi “engagment” dan “permission- based” . dengan perubahan-perubahan tersebut, maka pendekatan kepada konsumen pun juga harus dirubah, salah satunya melalui pemanfaatan media sosial yang menitikberatkan pada bagaimana menciptakan komunikasi dan engagment  dengan konsumen.

Social media tidak lagi sekedar jejaring sosial, namun telah menjelma menjadi sebuah media berbisnis. Dengan memanfaatkan media sosial secara tepat dapat menjadi salah satu media promosii dan komunikasi yang baik bagi perusahaan dan konsumennya. Dalam hal ini, PR dapat menjadikan social media sebagai sarana menjalin relationship dan menjalin komunikasi dengan konsumennya. Selain itu, PR juga dapat menjadikan media sosial sebagai media edukasi tentang produknya kepada konsumen. Melalui komunikasi di media sosial, pemilik produk dapat mengetahui produk atau layanan seperti apa yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen.

Beberapa manfaat media sosial bagi PR dalam berhubungan dengan konsumennya:

  1. Sebagai media komunikasi dua arah di mana brand dan fans/followers sebagai sahabat yang sama kedudukannya.
  2. Memberikan layanan “customer servis” dua arah.
  3. Sebagai sarana product knowledge maupun edukasi produk. Terutama pada saat  ada “friend” yang menyerang lewat media sosial atau beredar luasnya keluhan pelanggan.
  4. Mempermudah untuk menggali insight atau pendapat konsumen tentang produk.

Lalu, Bagaimana sebaiknya PR mengelola hubungan konsumennya di media sosial?

  1. Giving. Dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan follower/friend gunakan prinsip “giving”, memberi-memberi-memberi. Berilah mereka konten-konten yang berguna berupa informasi , inspirasi, tips-tips yang berkaitan dengan merek anda. “the more you give, the more you get”. Semakin banyak anda memberi, maka followers/friends Anda akan memberikan loyalitas dan trust mereka kepada merek Anda.
  2. Conversations. Komunikasi yang anda lakukan haruslah dua arah, di mana setiap komentar, masukan, dan curhat dari follower/friends harus direspons secara interaktif.
  3. Listening. Fungsi penting komunikasi di samping conversation adalah mendengarkan (listening) . di ranah media sosial kita harus melakukan conversation dan listeniing secara proporsional. Dengan kontinyu mendengar updates atau posting dari followers/friends maka kita akan menunjukkan bahwa kita peduli kepada mereka, tidak selfish. Kepedulian ini merupakan modal luar biasa untuk menjalin relationship antara merek dengan konsumen.
  4. Passing. Harus mengerti gaya obrolan pada masing-masing media. Misalnya di Kaskus itu gaya obrolannya begini, beda dengan di FB atau twitter. Gaya bahasanya bagaiman, kita harus tahu dan bersedia meniru.
  5. Enthusiasm. Harus benar-benar ingin ngobrol. Jangan bilang mau ngobrol tapi jualan. Boleh juga diselipkan jualan, tapi jangan terlalu kentara. Dan harus bisa menerima kritik. Kritik di social media adalah hal biasa, terhadap suara sumbang, harus bisa menjelaskan dengan baik agar permasalahan menjadi clear.

 *Sumber: Majalah Mix

 

Tips Komunikasi…

Budaya Betawi

 

Sekedar Berbagi…. Mudah-mudahan bermanfaat bagi anda yang ingin tahu tentang budaya Betawi

Budaya Betawi terbentuk oleh hasil cipta-rasa-karsa dan sikap-kata-perbuatan Etnik Betawi yang tersusun menjadi kebiasaan dan sistem hidup dalam perspektif sejarahnya. Budaya terbentuk dari beberapa unsur, termasuk di dalamnya adalah bahasa, sistem kepercayaan, adat istiadat, kuliner, pakaian, bangunan, dan karya seni (Pradipta, 2004:36)

Kebudayaan Betawi banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan nusantara maupun asing. Gambang Kromong identik dengan musik Arab, Keroncong Tugu berlatar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor dipengaruhi musik Belanda. Dalam hal upacara pekawinanpun tak lepas dari pengaruh kebudayaan asing, yakni Cina dan Arab. Kesenian Tanjidor atau rebana pengiring arak-arakan penganten pria serta petasan merupakan pengaruh budaya Belanda, Arab, dan Cina. Kenyataan ini menjadikan budaya Betawi  sebagai satu suku yang unik karena keanekaragaman di dalamnya (Fauziah, dkk. 2002: 10).

Menurut Ruchiat dan Singgih (2003: 23-26), dalam kehidupan Etnik Betawi  terdapat berbagai macam kebudayaan dan tradisi antara lain:

Tradisi pada Prosesi Pernikahan Adat Betawi

1) Bawaan Pengantin Pria

Sirih lamaran, maket masjid, kekudung, mahar (mas kawin), pesalinan dan petise merupakan bawaan wajib mempelai pria untuk mempelai wanita. Sirih lamaran melambangkan penghormatan bagi pihak perempuan. Maket masjid merupakan pesan agar mempelai wanita tidak lupa akan kewajiban beribadah. Pesalinan terdiri dari pakaian wanita dan roti buaya. Sedangkan Petise adalah kotak yang berisi sayur mayur atau bahan mentah untuk pesta.

2)            Sepasang Buaya

Satu hal yang selalu dibawa seorang lelaki Betawi saat meminang seorang gadis adalah sepasang roti buaya. Tidak jarang, roti buaya dilengkapi dengan buaya kecil sebagai simbol anak kedua pengantin kelak. Bagi etnik Betawi, buaya adalah simbol kesetiaan dan pasangan yang abadi karena tidak berpoligami dan selalu mencari makan bersama-sama.

3) Arak-arakan Pengantin

Layaknya raja, mempelai pria dikawal saat akan melakukan akad nikah. Keluarga mempelai pria datang dengan rombongan yang membawa seserahan untuk mempelai wanita. Rombongan diiringi ondel-ondel, tanjidor, marawis, dan dua pemuda yang membawa kembang kelapa (lambang kemakmuran) di bagian depan. Rombongan mempelai pengantin pria ini disambut oleh petasan sebagai penanda akan diselenggarakannya suatu hajat besar.

4)            Buka Palang Pintu

Sebelum akad nikah dilangsungkan, mempelai pria harus melewati prosesi “buka palang pintu”. Utusan keluarga pria dan wanita saling berbalas pantun dan adu silat. Prosesi ini merupakan ujian bagi mempelai pria agar diterima menjadi calon suami mempelai wanita.

b. Rumah Khas Etnik Betawi

Ada tiga area di setiap rumah tradisional etnik Betawi, yaitu: kawasan publik (ruang tamu atau amben), kawasan privat (ruang tengah dan kamar atau pangkeng), dan kawasan servis (dapur atau srondoyan). Dalam arsitektur Betawi ada hal yang penting bahkan bisa dikatakan sakral, yaitu Balaksuji. Balaksuji adalah konstruksi tangga yang banyak ditemukan pada jenis rumah panggung. Memasuki rumah lewat tangga berarti melakukan proses menuju kesucian.

1)  Rumah Joglo

Rumah yang memiliki atap yang menjulang ke atas dan tumpul seperti rumah joglo jawa. Terdapat serambi belakang untuk menerima tamu perempuan sedangkan serambi depan untuk menerima tamu laki-laki. Pada rumah joglo, pintu masuk terdapat di samping rumah.

2)  Rumah Kebaya

Rumah tipe kebaya memiliki beberapa pasang atap, bila dilihat dari samping berlipat-lipat seperti lipatan kebaya. Rumah ini melambangkan penduduk Jakarta yang terdiri atas berbagai suku bangsa.

3) Rumah Panggung

Rumah panggung yang terbuat dari kayu adalah satu jenis rumah Etnik Betawi pada sekitar abad 15-16. Konsep rumah ini mirip dengan rumah adat Melayu, yang memiliki fungsi untuk menahan banjir yang sewaktu-waktu datang. Rumah panggung Etnik Betawi banyak ditemukan di daerah yang berawa atau di pesisir pantai Marunda.

4) Rumah Bapang dan Gudang

Bentuk bangunan jenis rumah adalah segi empat polos dan sederhana. Perbedaan terletak pada bentuk atap rumah. Rumah Bapang berbentuk pelana tidak penuh dan lebar. Seangkan Rumah Gudang berbentuk pelana utuh.

 c.  Busana Tradisional

Celana batik dipakai oleh kaum lelaki sedangkan bagi kaum perempuan, kebaya dan kain batik menjadi pakaian sehari-hari. Pada acara-acara resmi seperti perkawinan atau peringatan hari-hari besar, para lelaki umumnya memakai pakaian berjenis jas yang dilengkapi dengan liskol (penutup kepala) dan lockan (ban pinggang) yang terbuat dari bahan batik. Sedangkan para perempuan tetap memakai baju kebaya, selendang panjang yang menutup kepala, serta kain batik. Biasanya dilengkapi dengan peniti rante dan ikat pinggang dari bahan emas atau perak. Gelang listering, serta cincin yang berbentuk belah ketupat merupakan hiasan yang sering dipakai kaum perempuan Etnik Betawi bila harus menghadiri satu acara perkawinan.

d.   Kuliner

Etnik Betawi memiliki aneka jenis makanan tradisional dengan cita rasa yang khas. Di antaranya yaitu: gado-gado, sayur babanci (sayur 1000 bumbu), kerak telor, geplak, serta minuman tradisional bir pletok.

e.      Boneka Maskot Betawi

Satu kesenian rakyat Betawi yang akhirnya menjadi “maskot” kota Jakarta adalah ondel-ondel. Menurut para ahli, boneka raksasa berangka bambu setinggi 2,5 meter ini sudah ada sejak berabad-abad lalu. Dahulu, ondel-ondel dibuat untuk keperluan upacara dan dipercaya memiliki kekuatan gaib yang akan menjaga keselamatan kampung beserta isinya. Upacara bersih desa atau sedekah bumi selalu menampilkan ondel-ondel. Seiring dengan perkembangan zaman, ondel-ondel pun mengalami perubahan fungsi sebagai pemeriah suasana arak-arakan penganten sunat, perkawinan, peresmian, pawai dan tentunya “maskot” DKI Jakarta.

f.       Seni Budaya

Sejak awal, Etnik Betawi sudah sangat heterogen, demikian juga dengan kesenian Betawi yang lahir dari perpaduan berbagai suku bangsa. Dalam bidang seni musik, Betawi mendapat pengaruh Barat, Tionghoa (Cina), Arab, Melayu, Sunda, dan lain-lain. Meskipun terdapat pengaruh budaya luar, warna musik yang dihasilkan atau dimainkan tetap khas budaya Betawi.

Selain seni musik, budaya Betawi juga memiliki seni tari seperti tari Samra, Cokek, Zapin dan Blenggo. Sedangkan teater Betawi adalah tontonan berlakon yang bersifat kerakyatan dan bersifat improvisatoris, diiringi musik rakyat Betawi. Teater rakyat Betawi adalah Lenong, Topeng Betawi, Tari Sambrah, dan Wayang Kulit Betawi. Selain itu ada Shahibul Hikayat dan Gambang Rancang yang dapat digolongkan ke dalam teater tutur.

Festival Sebagai Sarana Pencitraan dan Pelestarian Budaya

Tulisan ini mencoba mengkaji strategi pencitraan di dalam melestarikan budaya yang dalam hal ini diimplementasikan dalam sebuah kegiatan festival sebagai sarana pencitraan dan pelestarian budaya. Melalui proses perencanaan program komunikasi yang baik dan terarah akan mampu menghasilkan sebuah program festival budaya yang efektif  sebagai sebuah sarana pencitraan di dalam pelestarian budaya. Festival sebagai bagian dari kegiatan Public Relations, diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan bagi pihak-pihak terkait sebagai sarana pencitraan budaya.

Festival merupakan sarana komunikasi yang penting untuk membangun, memberdayakan, dan pengakuan suatu identitas budaya.  Karenanya, sebagai sebuah sarana komunikasi, maka sudah selayaknya sebuah event festival direncanakan melalui proses perencanaan strategis komunikasi agar dapat berjalan dengan efektif (Adrienne L. Kaeppler dalam Falassi. 1987: 23).

Budaya, merupakan sebuah produk sosial yang dapat dinyatakan sebagai : “Gaya hidup yang relative khusus dari suatu kelompok masyarakat –yang terdiri atas nilai-nilai, kepercayaan, artifak, cara berperilaku, serta cara berkomunikasi- yang ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Termasuk dari kultur ini adalah segala hal yang dihasilkan dan dikembangkan oleh anggota kelompok itu- bahasa, cara berfikir, seni, undang-undang, dan agama mereka” (Devito, 1997:479).

Mulyana dan Rakhmat (2001:18) mengatakan : ”Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai suatu tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep, alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok.”

Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan oleh karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh perbendaharaan perilaku kita sangat tergantung pada budaya tempat kita dibesarkan. Konsekuensinya, budaya merupakan landasan komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi.

Kebudayaan diciptakan dan dipertahankan melalui aktivitas komunikasi para individu anggotanya. Secara kolektif, perilaku mereka secara bersama -sama menciptakan realita (kebudayaan) yang mengikat dan harus dipatuhi oleh individu. Dengan demikian dapat dikatakan kebudyaan dirumuskan, dibentuk, ditransmisikan dan dipelajari melalui komunikasi. Sebaliknya keseluruhan perilaku komunikasi individu terutama tergantung pada kebudayaannya. Kebudayaan merupakan fondasi atau landasan bagi komunikasi. Kebudayaan yang berbeda menentukan pola-pola komunikasi berbeda pula (Sendjaja. 1994:286).

Dari penjelasan tersebut di atas dapat dikatakan fungsi budaya memberikan tuntunan dan tuntutan bagi masyarakatnya. Budaya menuntun masyarakat untuk bertingkah laku sesuai dengan adat istiadat, dan menuntutnya jika menyimpang dari norma -norma sosial yang berlaku, sedangkan fungsi komunikasi adalah sebagai alat untuk mensosialisasikan nilai –nilai budaya kepada masyarakatnya. Kedua fungsi ini sangatlah berkaitan sebab disamping untuk mentransmisikan budaya perlu komunikasi, juga perilaku -perilaku tertentu dalam suatu budaya mengajarkan apa yang boleh atau tidak boleh, yang baik atau jelek, yang pantas atau tidak pantas menurut kebudayaan bersangkutan kepada masyarakatnya (Sendjaja. 1994:193).

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sebagai sebuah aktivitas yang dinamis, komunikasi merupakan sarana untuk mensosialisasikan nilai-nilai budaya kepada masyarakatnya. Komunikasi dapat menjadi sarana transmisi budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Komunikasi menciptakan, atau membuat segala kebimbangan menjadi lebih pasti, dan bagaimanapun juga ‘budaya’ suatu kelompok dalam masyarakat menjadi ada dan terus ada karena mereka memiliki sejarah dan tradisi yang panjang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Namun, aktualisasi budaya lokal dalam kehidupan bermasyarakat pada kenyataannya masih belum berjalan baik. Nilai  budaya yang bersumber pada kearifan lokal dan kebudayaan suku bangsa dengan masuknya unsur-unsur budaya yang merugikan yang diserap tanpa filter budaya, menyebabkan masyarakat cenderung tidak lagi menggunakan nilai-nilai budaya tersebut dalam kehidupan, sehingga tidak ada lagi pilihan selain terjun ke dalam kancah pergaulan bangsa dan interaksi kebudayaan lintas bangsa. Oleh karena itu dalam kondisi inilah kebudayaan harus membuka pemahaman akan kekayaan dan keragaman warisan budaya yang kita miliki sebagai  salah satu kekuasaan dan keunggulan yang kompetitif yang bias dibanggakan dan memiliki daya produktif yang sangat tinggi.

Dengan menyadari akan fenomena dan dampak globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan lokal dalam rangka kekuatan unggulan daerah dalam berkompetisi memasuki persaingan-persaingan global, maka diperlukan sebuah program pelestarian dan pengembangan kebudayaan guna memperkokoh ketahanan budaya bangsa.  Dalam konteks pemahaman tersebut, kegiatan pokok yang perlu ditempuh antara lain adalah upaya pencitraan budaya melalui strategi perencanaan dan pengelolaan yang sistematik, pengemasan produk-produk kebudayaan yang menarik dan tepat sasaran, guna disebarluaskan kepada seluruh lapisan masyarakat baik nasional maupun internasional dalam upaya pelestarian budaya dan menumbuhkan kebanggaan masyarakat akan kebudayaannya sendiri.

Pelestarian sebagai kegiatan atau yang dilakukan secara terus menerus, terarah dan terpadu guna mewujudkan tujuan tertentu yang mencerminkan adanya sesuatu yang tetap dan abadi, bersifat dinamis, luwes, dan selektif . Pelestarian budaya adalah upaya untuk mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan mengembangkan perwujudan  yang bersifat dinamis, luwes dan selektif, serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang selalu berubah dan berkembang. Widjaja (1986)  mengartikan pelestarian sebagai kegiatan atau yang dilakukan secara terus menerus, terarah dan terpadu guna mewujudkan tujuan tertentu yang mencerminkan adanya sesuatu yang tetap dan abadi, bersifat dinamis, luwes, dan selektif (Jacobus. 2006:115).

Pelestarian budaya adalah upaya untuk mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan mengembangkan perwujudan  yang bersifat dinamis, luwes dan selektif, serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang selalu berubah dan berkembang. Salah satu tujuan diadakannya pelestarian budaya adalah juga untuk melakukan revitalisasi budaya (penguatan).

Berkaitan dengan hal tersebut, festival budaya sebagai salah satu sarana komunikasi yang merupakan salah satu sarana penting yang dapat digunakan sebagai media pelestarian budaya. Sebagai sebuah peristiwa budaya, festival memiliki warna-warni ragam dan intensitas dramatik dari berbagai aspek dinamika, seperti misalnya estetika yang dikandungnya, berbagai tanda dan makna yang melekat, “akar” sejarah serta keterlibatan para penutur aslinya. Secara kebetulan hal ini juga telah melekat dalam daya tarik nostalgia masa silam yang dikemas dalam bentuk paket-paket wisata budaya dan kini telah menarik berbagai pengunjung dari berbagai belahan bumi ini.

Daerah-daerah yang sedang berkembang biasanya menggunakan festival untuk tujuan tersebut. Karakteristik setiap festival adalah unik, dan karenanya tak ada satu model standar yang dapat digunakan untuk mengelola semua jenis festival. Festival memiliki tujuan yang berbeda-beda, ada yang bertujuan untuk hiburan dan edukasi, ada yang bertujuan untuk menyatukan berbagai komunitas di dalam masyarakat, ada pula yang bertujuan untuk promosi usaha. Festival juga bisa hanya berskala kecil, seperti pesta rakyat lokal, hingga yang berskala internasional. Apapun alasan yang ada di balik suatu festival budaya, di sana pasti ada pendukung, peserta, dan pengunjung yang memiliki harapan yang berbeda pada setiap festival, dan hal ini juga mempengaruhi proses pengelolaan yang unik bagi setiap festival budaya. Model pengelolaan masing-masing festival haruslah memperhatikan keunikan dari setiap kesenian atau tradisi yang diangkat.

PR 2.0 : Mengadaptasi Perubahan Konsumen di Era Social Media

PR 2.0 : MENGADAPTASI PERUBAHAN KONSUMEN

DI ERA SOCIAL MEDIA

Munculnya teknologi web 2.0 telah melahirkan revolusi di bidang internet. Semula informasi dari website berjalan searah, tapi sekarang semua orang bisa menjadi kreator konten di internet dengan berkembangnya layanan seperti blog dan situs jaringan sosial.  Majalah Information Week (09/2007) menjelaskan “Web 2.0 is all the Web sites out there that get their value from the actions of users”. Jadi inti dari sebuah web 2.0 adalah keterlibatan user dan kecanggihan web tersebut dalam kolaborasi, interaksi dan melayani user. Contohnya adalah usaha pembaca dalam berkomentar dan trackbacks di blog. Dari sisi web, adalah adanya RSS di dalam Blog dimana semua informasi Blog dimungkinkan dapat diadaptasi.

Implikasi dari Web 2.0 adalah lahirnya Social Media atau Media Sosial yang kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perkembangan teknologi internet. Beragam aplikasi internet berbasiskan media sosial kian marak dan mampu menyihir para pengguna internet di seluruh dunia. Dengan media sosial, setiap individu dapat saling berbagi cerita dan informasi dengan menggabungkan teknologi berupa tulisan, gambar, video maupun audio.

Jika dulu suatu produk informasi hanya bisa dipublikasikan oleh produsen saja, maka kini setiap individu bisa mempublikasikan informasinya sendiri atau dikenal dengan istilah User Generated Content (UCG). Setiap individu juga bisa langsung memberikan tanggapan atau komentar atas informasi yang dia peroleh dari media sosial. Hal ini membuat interaksi sosial antara satu individu dengan individu lain menjadi lebih cepat dan juga lebih murah.

Social media sejatinya adalah sebuah bentuk budaya yang dinamakan dengan budaya partisipasi. Tanpa adanya partisipasi dari pengguna, sebuah situs jejaring social belum pantas disebut sebagai social media walaupun situs tersebut dilengkapi fasilitas user generated content / consumer generated media. Mengapa demikian? Karena social media sangat menekankan pada aspek conversation, yang akan menentukan tinggi atau rendahnya budaya partisipasi yang terbentuk dalam social media tersebut. Blog, Social Networking, Social Blog, Forum, Micro-Blogging, apapun bentuknya apabila tidak memiliki budaya partisipasi yang memadai maka, social media tersebut akan menemui kegagalan.

Menurut data tersebut, yang dikutip VIVAnews , diketahui Indonesia merupakan negara dengan jumlah Facebook terbesar kedua setelah Turki di Benua Asia, yakni sebesar 5.949.740 pengguna. Sementara Turki, yang menduduki peringkat keempat di dunia, memiliki 10.926.180 pengguna per Selasa, 16 Juni 2009 pukul 17.00 WIB. Sementara itu, berdasarkan data  dari Google Trend, pengunjung Twitter rata-rata per hari lebih dari 200 ribu orang (unique visitor). Sementara, forum diskusi Kaskus.us yang sering disebut sebagai situs komunitas terbesar di Indonesia yang memiliki anggota lebih dari sejuta orang. Namun, jumlah itu dikalahkan oleh pengunjung Twitter asal Indonesia. Data ini juga ditunjang oleh sejumlah perusahaan riset. comScore, misalnya, seperti ditulis TechCrunh mengatakan pengguna Twitter di Indonesia November 2009 lalu mencapai 1,4 juta orang. Adapun, pengguna Twitter global mencapai 60 juta orang.

Fenomena Social media secara fundamental mengubah cara perusahaan berkomunikasi. Maraknya Facebook, Twitter, Plurk, blog, wiki, youtube dan lainnya memaksa perusahaan meningkatkan cara komunikasi yang semula satu arah dan dua arah menjadi segala arah. Di tengah maraknya fenomena itu, praktisi PR masa kini harus menghadapi publisher baru. Mereka adalah para blogger, para facebookers, para friensdters, para plukers serta pemilik akun di Web 2.0 lainnya. Mereka adalah para konsumen. Internet memang telah mengubah posisi konsumen di mata perusahaan.

Di era Internet Web 2.0, konsumen melemparkan kekecewaan dengan menulis blog atau mem-posting-nya di berbagai milis serta social networking. Internet membuka banyak kanal untuk memprotes produsen. Di era ini, konsumen bebas menyampaikan pendapat dan melakukan percakapan secara horisontal satu sama lain di dunia maya, yang dikenal dengan era Web 2.0.

Namun sayangnya, Profesional PR masih lamban mengadaptasi perubahan konsumen di era digital ini, terutama yang didorong maraknya Web 2.0, para praktisi PR di Indonesia masih berkutat di Public Relations 1.0 -sebuah strategi PR yang menempatkan middle man, yakni para jurnalis, sebagai penyampai pesan-. Padahal, sesuai dengan konsep 2.0, PR 2.0 memanfaatkan web  – web 2.0 untuk mencapai lebih jauh, lebih efektif dan tentunya juga lebih efesien dari segi biaya. PR 2.0 adalah definisi ulang dari kegiatan PR akibat pengaruh teknologi berbasis web dan multimedia. Jadi, PR 2.0 bukan lagi sekadar mengelola jurnalis, tetapi juga mengelola konsumen yang mampu menjadi publisher di dunia maya. Posisi konsumen kini sudah naik pangkat. Mereka tidak lagi sekadar konsumen, tapi juga publisher dan influencer.

Dengan demikian, yang harus disadari oleh setiap praktisi PR bahwa era sudah berubah. Penyampai pesan bukan lagi hanya media mainstream, baik televisi, cetak, radio maupun online. Semenjak blog mudah dibuat, forum online bertebaran dan social media bertumbuhan, setiap pengguna Internet bisa menjadi penyampai pesan. Mereka yang biasanya hanya menonton televisi membaca koran/majalah, medengarkan radio, browsing di Internet, kini juga bisa membuat blog, membuat akun di Facebook atau Friendster, dan menuliskan pesan apa saja yang mereka suka atau inginkan. Jika mereka tidak suka dengan pengalamannya mengonsumsi sebuah produk, mereka dengan mudah menulisnya di blog, di Facebook, dan menyebarkannya di forum atau milis. Mereka tidak perlu bersusah payah mengirim surat pembaca ke media cetak yang entah kapan dimuatnya.

Sebagai implikasi dari era Web 2.0  Pada era ini konsumen lebih sibuk berkomunikasi dan berbincang mengenai produk dan perusahaan dengan sama konsumen. Komunikasi horizontal terjadi. Namun Sayang komunikasi ini nyaris tidak melibatkan perusahaan. Inilah Inilah yang menyebabkan perusahaan gagap untuk berkomunkasi dan mendapatkan feedback dari pelanggannya. Survei yang dilakukan DEI Worldwide mengenai dampak social media terhadap perilaku belanja menunjukkan bahwa, 62% mengatakan informasi produk yang didapatkannya melalui percakapannya di social media lebih bernilai ketimbang informasi yang diterima dari iklan. Sementara itu, Survei yang dilakukan Forester Reseach tahun 2007 bahkan sudah meletakkan blogger sebagai influencer kedua setelah teman/keluarga dalam hal memutuskan konsumen membeli barang.

Bagi perusahaan yang terbiasa dengan produk siap pakai, perubahan ini relatif mudah diantisipasi, bahkan bisa dimanfaatkan sebagai peluang emas. Dell Computer misalnya, meluncurkan situs Dell’s Ideastorm yang mempersilahkan pelanggan untuk menyampaikan apapun produk yang mereka inginkan di masa mendatang. Salah satu hasilnya adalah Linux Box, yang jelas-jelas mencederai hubungan jangka panjang Dell dengan Microsoft yang selama ini menjadi mitra penting di sisi operating system.

Meski demikian, ada cara PR untuk mengurangi risiko gagal komunikasi dan pemasaran di social media. Pertama, lihatlah perubahan konsumen ini secara strategis terlebih dulu sehingga dapat digali potensi-potensinya baik untuk pengembangan produk maupun customer relations. Kedua, perusahaan mengantisipasi perubahan ini secara strategis, bukan sekadar melaksanakan program marketing dan public relations di social media, tetapi juga membangun organisasi yang siap mengeksekusinya. Sangat layak jika saat ini perusahaan besar memiliki manager baru di bidang social media. Ketiga: perkuat riset di bidang social media agar betul-betul memahami perilaku social media sehingga mampu membangun strategi yang tepat.

Dengan demikian, Untuk mengadaptasi perubahan konsumen di era social media. Sudah seharusnya bagi Praktisi PR lebih kreatif untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak yang merugikan perusahaan. Lalu apa yang sebaiknya harus dilakukan seorang PR?

Jika sebelumnya para humas lebih banyak bersentuhan dengan media (melalui strategi Media Relations), dengan pemerintah (melalui Goverment Relations) dan sedikit bersentuhan dengan konsumen melalui Marketing PR, maka kini mereka harus bersentuhan langsung dengan publik dan konsumen di dunia maya.

Konsumen yang bergabung di social media tidak butuh bahasa yang manis dan formal ala siaran pers. Yang mereka butuhkan adalah juru bicara perusahaan yang mengerti kebutuhan mereka dan sekaligus merespon keluhan mereka secepat mungkin. Konsumen juga butuh seorang praktisi PR yang bisa berinteraksi langsung dengan mereka dan melakukan percakapan. Tentu saja, ini bukan pekerjaan mudah. Apalagi praktisi PR itu wajib “berbicara” sesuai brand personality yang diwakilinya.

Jadi, PR 2.0 bukan lagi sekadar mengelola jurnalis, tetapi juga mengelola konsumen yang mampu menjadi publisher di dunia maya. Praktisi PR pada akhirnya harus update dengan teknologi terbaru. Mereka harus terus mengikuti perkembangan teknologi. Bila sekarang sedang tren Twitter, maka mereka harus terjun ke dalamnya biar mengerti bagaimana sebenarnya Twitter itu. Apa yang bisa dilakukan, aplikasi apa saja yang ada di Twitter yang bisa mendukung pekerjaan mereka.

Selain itu, Praktisi PR juga wajib adaptif terhadap perkembangan media social seperti Facebook, twitter dan media social lainnya diantaranya memahami apa beda Profile Page, Fans Page, Groups, dan Causes di Facebook, termasuk memantau perkembangan yang sangat pesat. Fans Page Facebook misalnya, terus menerus mengalami perubahan dan perbaikan yang bermanfaat untuk komunikasi merek. Pada saat yang sama praktisi PR juga perlu memahami aplikasi Facebook yang juga berkembang sangat cepat. Dengan memahami teknologi ini, praktisi PR diharapkan memahami implikasi aplikasi baru tersebut terhadap perusahaan dan merek yang ditangani. Selain itu, pemahaman user behavior lokal mutlak diperlukan untuk membangun strategi Public Relation di dunia maya dengan target konsumen Indonesia. Dengan demikian, secara praktis hal tersebut membuat kerja praktisi PR masa kini mengalami perubahan yang sangat luar biasa. PR masa kini bukan hanya harus cerdas berhubungan dengan influencer, termasuk media, tetapi juga dituntut untuk fasih berhubungan langsung dengan konsumen. Dan kita semua paham, karakter konsumen maya sudah pasti tidak sama dengan karakter jurnalis, media atau industri media, atau karakter medium dan influencer lain.

Perencanaan Strategis Kampanye PR

PERENCANAAN STRATEGIS KAMPANYE PR

By :  Halimatusa’diah, S.Sos

Ketika berfikir tentang PR dan perencanaan, ada baiknya kita mulai dengan melihat definisi PR berikut :

“praktik PR adalah usaha yang direncanakan serta dilakukan secara kontinyu untuk menciptakan dan menjaga nama baik (goodwill) dan kesepahaman bersama antara suatu organisasi dengan publiknya.”

Inti dari definisi tersebut adalah bahwa PR harus direncanakan. Itu merupakan proses yang dipikirkan secara matang dan hati-hati. Proses tersebut juga memerlukan aktivitas yang dilakukan secara terus menerus. Dalam kaitannya dengan praktek kampanye PR, setidaknya ada beberapa alasan mengapa sebuah perencanaan harus dilakukan dalam kampanye, yaitu :

  1. Memfokuskan usaha. Perencanaan membuat tim kampanye dapat mengidentifikasi dan menyusun tujuan yang akan dicapai dengan benar hingga akhirnya pekerjaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien, karena berkonsentrasi pada prioritas dan alur kerja yang jelas.
  2. Mengembangkan sudut pandang berjangka waktu panjang. Perencanaan membuat tim kampanye melihat semua komponen secara menyeluruh. Ini akan membuat tim kampanye tidak berpikir mengenai efek kampanye dalam jangka waktu yang pendek tapi juga ke masa depan, hingga mendorong dihasilkannya program yang terstruktur dalam menghadapi kebutuhan masa depan.
  3. Meminimalisi kegagalan. Perencanaan yang cermat dan teliti akan menghasilkan alur serta tahapan kerja yang jelas, terukur, dan spesifik serta lengkap dengan langkah-langkah alternatif, sehingga bila ada kegagalan bisa langsung diambil alternatif penyelesaian.
  4. Mengurangi konflik. Konflik kepentingan dan prioritas merupakan hal yang sering terjadi dalam sebuah kerja tim. Perencanaan yang matang akan mengurangi potensi munculnya konflik, karena sudah ada bentuk tertulis mengenai alur serta prioritas pekerjaan untuk tiap-tiap anggota tim.
  5. Memperlancar kerja sama dengan pihak lain. Sebuah rencana yang matang akan memunculkan rasa percaya para pendukung potensial serta media yang akan digunakan sebagai saluran kampanye, hingga pada akhirnya akan terjalin kerjasama yang baik dan lancar. (Gregory dalam Venus 2007:144)

Proses pengembangan tahapan-tahapan perencanaan suatu pelaksanaan program kampanye Public Relations secara keseluruhan, yaitu termasuk tujuan, publik sasaran dan pesan-pesan yang efektif, baik bertujuan periode jangka panjang (strategi) maupun berbentuk secara mikro (individual) dalam pelaksanaan jangka pendek dengan tujuan khusus (taktik) dapat dilaksanakan secara bersama-sama melalui proses 10 tahapan atau rangkaian yang secara logis. Gregory (2004:36) menyebutkan 10 tahapan perencanaan sebagai berikut :

1. Analisis Situasi

Analisis adalah langkah pertama dari proses perencanaan. Setelah riset, tahap berikutnya adalah analisis dan ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi dasar dari program Public Relations. ada dua jenis analisis yang digunakan untuk perencanaan program kampanye yaitu :

Analisis PEST

Teknik yang biasa digunakan dan sangat berguna untuk menganalisis lingkungan eksternal. PEST membagi lingkungan dalam empat area dan membahas hampis segala hal yang dapat mempengaruhi organisasi. Empat area tersebut adalah Politik, Ekonomi, Sosial dan Teknologi. Menurut Gregory (2004:41) pertanyaan-pertanyaan dasar yang diungkapkan ketika melaksanakan analisis PEST adalah : apa faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi organisasi?, mana dari faktor-faktor tersebut yang paling penting saat ini?, mana yang akan menjadi faktor yang paling penting empat tahun kemudian?

Analisis SWOT

Analisis SWOT meliputi empat elemen yaitu Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Oppurtunities (kesempatan), dan Threats (tantangan). Strength dan oppurtunities dapat dikelompokan sebagai pertimbangan-pertimbangan positif yang mendukung terlaksananya program kampanye, sedangkan weakness dan threats dikelompokan pada kondisi-kondisi negatif yang harus dihadapi kampanye. Sementara menurut Gregory (2004:46) menjelaskan dua elemen pertama, Strength dan Weakness dapat dilihat sebagai faktor yang digerakan secara internal dan bersifat khusus terhadap organisasi. Dua elemen yang lain, Oppurtunities dan Threats biasanya bersifat eksternal dan didapat melalui analisis PEST.

2. Tujuan

Menetapkan tujuan yang realistis adalah sangat penting apabila program atau kampanye yang direncanakan harus memiliki arah dan dapat menunjukan suatu keberhasilan tertentu. Tujuan utama dari Public Relations adalah untuk mempengaruhi sikap dan perilaku. Menurut Gregory (2004:79) ada delapan hal penting yang harus di ingat ketika menetapkan tujuan, yaitu :

  1. Sejalan dengan tujuan organisasi.
  2. Tepat dan spesifik.
  3. Lakukan apa yang dapat dicapai.
  4. Lakukan pengukuran sebanyak mungkin.
  5. Bekerjalah berdasarkan skala waktu.
  6. Bekerjalah berdasarkan anggaran.
  7. Bekerjalah sesuai dengan urutan prioritas.

4. Mengenali Publik

James Grunig (1984) mendefinisikan empat jenis publik, yaitu :

  1. Nonpublik, adalah kelompok yang tidak terpengaruh maupun mempengaruhi organisasi.
  2. Publik yang tersembunyi (latent public), adalah kelompok yang menghadapi masalah akibat tindakan suatu organisasi, namun mereka tidak menyadarinya.
  3. Publik yang sadar (aware public), adalah kelompok yang mengenali adanya masalah.
  4. Publik yang aktif, adalah kelompok yang mengambil tindakan terhadap suatu masalah.

Sementara itu, publik yang aktif dapat dikelompokan dalam tiga kategori berikut :

  1. Publik semua masalah (all-issue public) sangat aktif terhadap semua masalah yang mempengaruhi organisasi.
  2. Publik masalah tunggal (single-issue public) sangat aktif terhadap satu masalah atau sekelompok kecil masalah.
  3. c.    Publik masalah hangat (hot-issue public)  adalah mereka yang terlibat dalam suatu masalah yang memiliki dukungan publik luas dan biasanya mendapatkan liputan khusus dari media.

Pemilihan publik mana yang akan menjadi sasaran bergantung pada tujuan kampanye yang akan dilaksanakan. Arens dalam Venus (2007:150) mengatakan bahwa identifikasi dan segmentasi ssasaran kampanye dilaksanakan dengan melakukan pemilahan atau segmentasi terhadap kondisi geografis, kondisi demografis, kondisi perilaku dan kondisi psikografis.

4. Pesan

Gregory (2004:95) menjelaskan empat langkah untuk menentukan pesan, yaitu : Langkah pertama adalah menggunakan persepsi yang sudah ada. Langkah kedua adalah menjelaskan pergeseran yang dapat dilakukan terhadap persepsi tersebut. Langkah ketiga adalah mengidentifikasi unsur-unsur persuasi. Cara terbaik adalah melakukannya berdasarkan fakta. Langkah keempat adalah memastikan bahwa pesan tersebut dapat dipercaya dan dapat disampaikan melalui Public Relations.

5. Strategi

Strategi adalah pendekatan keseluruhan untuk suatu program atau kampanye. Strategi adalah faktor pengkoordinasi, prinsip yang menjadi penuntun, ide utama dan pemikiran dibalik program taktis. (Venus 2007:152)

6. Taktik

Berbicara taktik pelaksanaan suatu program kampanye yang harus berkaitan erat dengan program dari strategi utama, tujuan kampanye, ketika akan mengembangkan taktik pelaksanaan kampanye tersebut tidak terlepas dari faktor-faktor kekuatan, kreativitas atau kemampuan tim pelaksana, pengembangan program hingga pencapaian tujuan terukur, seperti yang diungkapkan Ruslan (2007:102) sebagai berikut :

a)      Appropriateness, adanya kecocokan secara aktual dengan teknik-teknik taktik pelaksanaan, pencapaian target khalayak publik, hasil-hasil yang dicapai dalam melaksanakan pesan-pesan kampanye dan termasuk kecocokan dengan teknik-teknik Public Relations serta media komunikasi yang dipergunakan.

b)     Deliverability, apakah anda mampu melaksanakan teknik-teknik berkampanye secara sukses sesuai dengan target? berapa besar alokasi dana yang diperlukan? Bagaimana dengan jadwal waktu pelaksanaan kampanye tersebut apakah sudah tepat? Termasuk memiliki tim ahli dan pendukungnya dalam taktik pelaksanaan secara tepat?.

7. Skala waktu

Ada dua hal yang pasti dalam kehidupan praktisi Public Relations. Pertama, tidak pernah ada waktu yang cukup untuk melakukan semua pekerjaan yang harus dilakukan, tugas dan tanggung jawab yang ada lebih besar daripada waktu yang tersedia. Kedua adalah bahwa tugas-tugas Public Relations seriingkali melibatkan orang lain dan memerlukan koordinasi dari beberapa unsur. Ada dua faktor utama yang saling berkaitan yang harus diamati ketika mempertimbangkan skala waktu. Pertama, tenggat waktu (deadline) harus di identifikasi sehingga tugas-tugas yang dihubungkan dengn suatu proyek dapat diselesaikan tepat waktu. Kedua adalah sumber daya yang tepat perlu dialokasikan sehingga tugas-tugas yang ada dapat diselesaikan. (Gregory, 2004:124)

8. Sumber daya

Menurut Ruslan (2007:104) terdapat tiga bentuk sumber daya utama yang berkaitan dengan pelaksanaan program kampanye Public Relations. Pertama sumber daya manusia (SDM) yang terlibat langsung dalam kegiatan kampanye berupa tenaga profesional, dan ahli hingga terampil, staf pendukung atau tenaga lapangan. Kedua, sumber biaya operasional untuk menunjang kegiatan kampanye yang dikelola secara efisien dalam pembiayaan pelaksanaan operasional (implementation fee), consultant or professional fee, space of advertising cost, dan equipment fee (biaya penyewaan perlatan penunjang, publikasi, transportasi, sound system dan lighting system dan sebagainya). Ketiga adalah sumber perlengkapan transportasi, dukungan perlatan teknis, pemanfaatan media komunikasi dan tim kerja lain dan sebagainya.

9. Evaluasi

Menurut Gregory (2004:138) evaluasi adalah proses yang berkelanjutan jika kita berbicara tentang program berjangka panjang. Jika dilaksanakan dengan benar, evaluasi memudahkan anda untuk mengendalikan kegiatan Public Relations. Berikut adalah alasan menngapa kita perlu mencantumkan evaluasi dalam kampanye dan program yang kita buat.

  1. Memfokuskan usaha.
  2. Menunjukan keefektifan.
  3. Memastikan efisiensi biaya.
  4. Mendukung manajemen yang baik.
  5. Memfasilitasi pertanggungjawaban.

10. Review

Sementara evaluasi dilakukan secara teratur, review yang menyeluruh dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang. Setelah memutuskan untuk melakukan review, siklus proses perencanaan akan terulang lagi. Sekali lagi pertanyaan-pertanyaan dasar harus diajukan :

  1. Apa yang ingin kita capai?
  2. Siapa yang ingin kita jangkau?
  3. Apa yang ingin kita katakan?
  4. Apa cara yang paling efektif untuk menyampaikan pesan?
  5. Bagaimana suskes dapat diukur?

Selain itu, peninjauan kembali terhadap penilaian perencanaan, pelaksanaan selama program dan pencapaian tujuan tertentu suatu kampanye berlangsung secara periodik setiap tahun tujuan program kampanye Public Relations melalui proses input (perolehan riset data, fakta, dan informasi di lapangan), output (kecocokan dengan isi pesan, tujuan dan media yang dipergunakan) dan result (hasil-hasil dari tujuan dan efektivitas program kampanye yang telah dicapai, apakah adanya perubahan sikap atau perilaku khalayak sasaran).

Pelaksanaan Kampanye

Menurut Venus (2007:199) pelaksanaan kampanye adalah “penerapan dari konstruksi ranncangan program yang telah ditetapkan sebelumnya”. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam tahap pelaksanaan meliputi : realisasi unsur-unsur kampanye, menguji coba rencana kampanye, pemantauan pelaksanaan, dan pembuatan laporan kemajuan.

  1. Realisasi unsur-unsur pokok kampanye

Perekrutan dan pelatihan personel kampanye

Kegiatan kampanye merupakan kerja tim. Dengan demikian banyak personel (juga lembaga) yang akan terlibat didalamnya. Penentuan siapa saja yang akan terlibat sebagai pelaksana kampanye (campaign organizer) merupakan langkah awal dalam melaksanakan kampanye. Orang-orang yang akan menjadi personel kampanye harus diseleksi dengan teliti dengan memperhatikan aspek motivasi, komitmen, kemampuan bekerjasama, dan pengalaman yang bersangkutan dalam kerja sejenis.

Mengonstruksi pesan

Pada prinsipnya desain pesan kampanye harus sejalan dengan karakteristik khalayak sasaran, saluran yang digunakan, dan efek kampanye yang diharapkan. Pesan kampanye memiliki berbagai dimensi yang meliputi pesan verbal, nonverbal, dan visual. Namun apapun dimensinya, secara umum konstruksi pesan kammpanye harus didasarkan pada pertimbangan kesederhanaan (simplicity), kedekatan (familiarity) dengan situasi khalayak, kejelasan (clarity), keringkasan (conciesness). Kebaruan (novelty), konsistensi, kesopanan (courtessy) dan kesesuaian dengan objek kammpanye.

Menyeleksi penyampai pesan kampanye

Pelaksanaan kampanye juga menghendaki pelaksana kampanye berhadapan dengan pemilihan individu yang secara spesifik bertindak sebagai pelaku (campaign actor) yang menyampaikan pesan kampanye. Keputusan untuk menentukan siapa pelaku atau penyampai pesan kampanye ini menjai sangat penting karena merekalah aktor yang akan berhadapan langsung dengan publik.

Menyeleksi saluran kampanye

Menyeleksi media mana yang akan digunakan sebagai saluran kampanye harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Beberapa faktor pokok yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media kampanye diantaranya : jangkauan media, tipe dan ukuran besarnya khalayak, biaya, waktu, dan tujuan serta objek kampanye. Di samping itu faktor lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah karakteristik khalayak, baik secara demografis, psikografis, maupun geografis. Pola penggunaan media khalayak (media habit) juga harus diperhitungkan untuk memastikan media apa yang biasanya digunakan khalayak.

2. Uji coba rencana kampanye

Uji coba terhadap suatu rancangan dilakukan untuk menyusun strategi (pesan, media, dan penyampai pesan) yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Lewat uji coba rencana kampanye juga kita akan memperoleh gambaran tentang respons awal sebagian khalayak sasaran terhadap pesan-pesan kampanye. Respons ini pada gilirannya akan digunakan sebagai pembanding ketika melakukan evaluasi proses dan akhir kampanye.

3. Tindakan dan pemantauan kampanye

Sebagai sebuah kegiatan yang terprogram dan direncanakan dengan baik, maka segala tindakan dalam kampanye harus dipantau agar tidak keluar dari arah yang ditetapkan. Untuk itu harus dipahami bahwa tindakan kampanye bukanlah tindakan yang kaku dan parsial, tetapi bersifat adaptif, antisipatif, integratif dan berorientasi pada pemecahan masalah.

  • Adaptif. Tindakan kampanye bersifat adaptif artinya ia terbuka terhadap masukan-masukan baru atau bukti-bukti baru yang ditemukan di lapangan.
  • Anitisipatif. Tindakan kampanye bersifat antisipatif artinya kegiatan kampanye harus memperhitungkan berbagai kemungkinan yang akan muncul di lapangan saat kampanye dilakukan.
  • Orientasi pemecahan masalah. Tindakan kampanye bersifat problem solving oriented artinya segala bentuk tindakan dalam proses kampanye diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
  • Integratif dan koordinatif
  • Kegiatan kampanye bukanlah tindakan one man show melainkan kegiatan yang didasarkan pada kerja tim. Keberhasilan kampanye ditentukan oleh bagaimana pelaksana kampanye bertindak secara integratif dan koordinatif. Koordinasi ini tidak hanya dilakukan dengan sesama pelaksana kampanye melainkan juga dengan berbagai pihak terkait yang akan turut mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan pencapaian tujuan kampanye.

4. Laporan kemajuan

Unsur terakhir dari proses pelaksanaan kampanye adalah penjadwalan laporan kemajuan atau progress report. Laporan kemajuan merupakan dokumen yang sangat penting, bukan hanya bagi manajer tapi juga pelaksana kampanye secara keseluruhan. Dalam laporan kemajuan umumnya dimuat berbagai data dan fakta tentang berbagai hal yang telah dilakukan selama masa kampanye.

Evaluasi kampanye

Evaluasi adalah “komponen terakhir dari rangkaian proses pengelolaan kampanye. Meski menempati urutan terakhir, manfaat dan arti pentingnya tidak berbeda dengan tahap perencanaan dan pelaksanaan kampanye”. (Venus 2007:209) Evaluasi kampanye diartikan sebagai “upaya sistematis untuk menilai berbagai aspek yang berkaitan dengan proses pelaksanaan dan pencapaian tujuan kampanye”. Penilaian terhadap proses implementasi catatan harian kampanye yang berisi berbagai data dan fakta sebagai hasil proses pemantauan (monitoring), pengamatan di lapangan dan wawancara yang dilakukan untuk mendapatkan umpan balik.

Gregory dalam Venus (2007:211) mengemukakan lima alasan penting mengapa evaluasi perlu dilaksanakan.

  • Evaluasi dapat memfokuskan usaha yang dilakukan.
  • Evaluasi menunjukkan keefektifan pelaksana kampanye dalam merancang dan mengimplementasikan programnya.
  • Memastikan efisiensi biaya.
  • Evaluasi membantu pelaksana untuk menetapkan tujuan secara realistis, jelas dan terarah.
  • Evaluasi membantu akuntabilitas (pertanggungjawaban) pelaksana kampanye.

Evaluasi kampanye dapat dikategorikan dalam empat level sebagai berikut :

  • Tingkatan kampanye (Campaign Level)

Pada Campaign level kita ingin mengetahui apakah khalayak sasaran terterpa kegiatan kampanye yang dilakukan atau tidak. Dengan demikian pertanyaan pokok untuk evaluasi level ini adalah “apakah kampanye yang dilakukan dapat menjangkau khalayak sasaran yang ditetapkan? Dan apakah khalayak memberi perhatian pada kampanye tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini dapat menggunakan metode survei.

  • Tingkatan sikap (attitude level)

Pada tingkatan sikap evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode survei atau uji sederhana (simple test). Metode survei digunakan untuk sampel dalam jumlah besar, sementara tes sederhana umumnya digunakan untuk kelompok sasaran yang terbatas, yang juga sangat populer untuk mengukur pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh sebagai akibat diselenggarakannya kampanye. Dalam perspektif Ostergaard, terdapat empat aspek yang terkait dengan evaluasi pada tingkatan sikap yakni aspek Kognitif (pengetahuan, kesadaran, kepercayaan, dan sebagainya), Afektif (kesukaan, simpati, penghargaan, dukungan dan sebagainya), Konatif (komitmen untuk bertindak) dan aspek keterampilan atau skill.

  • Tingkatan perilaku

Para ahi kampanye memandang tingkatan perilaku sebagai level yang paling penting dalam kebanyakan evaluasi kampanye. Sayangnya jenis evaluasi  ini sering diabaikan atau dilakukan sekadarnya dengan mengamati realitas permukaan (superficial reality).

  • Tingkatan masalah

Level evaluasi yang terakhir adalah tingkatan masalah. Pada tingkat ini evaluasi dapat dilakukan dengan mudah atau sebaliknya sangat sulit dan memakan waktu lama. Problem atau masalah disini diartikan sebagai kesenjangan antara kenyataan dengan harapan atau dengan yang seharusnya terjadi. Yang sering menjadi pertanyaan dalam evaluasi pada tingkatab problem ini adalah, apakah yang akan diukur efek jangka pendek atau jangka panjang? Kapan harus melakukan evaluasi, segera setelah kampanye berakhir atau beberapa tahun kemudian?

Ketika proses evaluasi telah dilakukan pada salah satu atau seluruh level kampanye, maka langkah terakhir adalah membuat kesimpulan. Membuat kesimpulan kampanye harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Pada tahap ini kita tidak boleh secara gegabah dan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kampanye yang dilaksanakan sukses mencapai tujuan. Pernyataan yang bersifat memastikan ini (deterministik) umumnya dihindari oleh para evaluator kampanye. Apa yang bisa dilakukan adalah membuat kesimpulan yang bersifat probabilistik. Jadi cukup tegaskan saja bahwa “media yang digunakan kemungkinan besar sudah sesuai”, penetapan khalayak sasaran hampir dapat dipastikan sudah tepat” atau “secara keseluruhan kampanye yang dilakukan cenderung menghasilkan efek yang positif”. Para peneliti kampanye telah mengidentifikasi beberapa situasi umum yang seringkali terjadi pada tahapan evaluasi.

  1. Keadaan dimana evaluasi terhadap efek yang diharapkan terbukti tercapai kecuali pada tingkatan “masalah”.
  2. Terjadi ketika kampanye tampak efektif untuk semua level namun ternyata perilaku khalayak tidak berubah.
  3. Terjadi ketika kampanye yang dilakukan memerlihatkan keefektifannya tapi faktor eksternal membuat masalah semakin senjang atau meningkat.

Ada beberapa istilah yang sering digunakan dalam evaluasi yang patut untuk mendapatkan penjelasan : Input adalah apa yang dilakukan oleh PR serta bagaimana produk tersebut didistribusikan. Output adalah bagaimana input digunakan, baik oleh publik sasaran secara langsung maupun oleh pihak ketiga yang merupakan penghubung atau pembentuk opini publik sasaran. Outcome (hasil akhir) ini melibatkan pengukuran efek akhir dari komunikasi. Outcome diukur dalam 3 cara :

  • Perubahan pada tingkat pemikiran atau kesadaran (kognitif)
  • Perubahan pada sikap atau opini (Afektif)
  • Perubahan dalam prilaku (konatif)

Kampanye PR : Tinjauan Konsep

KAMPANYE PR : TINJAUAN KONSEP
By : Halimatusa’diah

Public Relations adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian. Cutlip, Center and Broom (2009:6) menjelaskan bahwa PR fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut”.
Public Relations adalah fungsi manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya, menyangkut aktivitas komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerjasama; melibatkan manajemen dalam menghadapi persoalan atau permasalahan, membantu manajemen untuk mampu menanggapi opini publik; mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif; bertindak sebagai sistem peringatan dini dalam mengantisipasi kecenderungan penggunaan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama.
Berkaitan dengan hal tersebut, aktivitas PR dalam komunikasi terintegrasi dalam sebuah program kampanye PR. Kampanye PR dalam arti sempit bertujuan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan khalayak sasaran (target audience) untuk merebut perhatian serta menumbuhkan persepsi atau opini yang positif terhadap suatu kegiatan dari suatu lembaga atau organisasi (corporate activities ) agar tecipta suatu kepercayaan dan citra yang baik dari masyarakat melalui penyampaian pesan secara intensif dengan proses komunikasi dengan jangka waktu tertentu yang berkelanjutan. Dalam arti umum atau luas, kampanye PR tersebut memberikan penerangan terus-menerus serta pengertian dan memotivasi masyarakat terhadap suatu kegiatan atau program tertentu melalui proses dan teknik komunikasi yang berkesinambungan dan terencana untuk mencapai publisitas dan citra yang positif (Ruslan 2002 : 66) Sering terjadi kerancuan pengertian atau istilah kampanye yang disamakan dengan propaganda, dan secara operasional keduanya adalah sama-sama melakukan kegiatan berkomunikasi yang terencana untuk mencapai tujuan tertentu dan berupaya mempengaruhi khalayak sebagai target sasarannya. Menurut Rogers dan Storey dalam Ruslan (2007:23) kampanye “sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang terorganisasi dengan tujuan untuk menciptakan dampak tertentu terhadap sebagian besar khalayak sasaran secara berkelanjutan dalam periode waktu tertentu”. Sementara itu, Leslie B. Snyder mengungkapkan bahwa kampanye komunikasi adalah “tindakan komunikasi yang terorganisasi yang diarahkan pada khalayak tertentu, pada periode waktu tertentu guna mencapai tujuan”. Selanjutnya, Pfau dan Parrot menjelaskan bahwa kampanye adalah “suatu proses yang dirancang secara sadar, bertahap dan berkelanjutan yang dilaksanakan pada rentang waktu tertentu dengan tujuan mempengaruhi khalayak sasaran yang telah ditetapkan”. (Venus 2007:8)
Merujuk dari pengertian-pengertian diatas, maka apapun ragam dan tujuan dari kampanye Public Relations tersebut, upaya perubahan yang dilakukan kampanye selalu terkait dengan aspek pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan perilaku (behavioural). Ostergaard dalam Venus (2007:10) menyebut ketiga aspek tersebut dengan istilah “3A” sebagai kependekan dari awareness, attitude dan action.
Pada tahap pertama kegiatan kampanye biasanya diarahkan untuk menciptakan perubahan pada tataran pengetahuan atau kognitif. Pada tahap ini pengaruh yang diharapkan adalah munculnya kesadaran, berubahnya keyakinan atau meningkatnya pengetahuan khalayak tentang isu tertentu. Tahapan berikutnya diarahkan pada perubahan dalam ranah sikap atau attitude. Sasarannya adalah untuk memunculkan simpati, rasa suka, kepedulian atau keberpihakan khalayak pada isu-isu yang menjadi tema kampanye. Sementara pada tahap terakhir kegiatan kampanye ditujukan untuk mengubah perilaku khalayak secara konkrit dan terukur. Tahap ini menghendaki adanya tindakan tertentu yang dilakukan oleh sasaran kampanye.
Charles U. Larson dalam Ruslan (2007:25) kemudian membagi jenis kampanye kedalam tiga kategori yakni : Product-Oriented Campaigns, Candidate-Oriented Campaigns dan Ideologically or Cause Oriented Campaigns.
Product-Oriented Campaigns
• Kampanye yg berorientasi pada produk, umumnya terjadi di lingkungan bisnis.
• Istilah lain: commercial/corporate campaign.
• Contoh: Kampanye Bank BTN Go Public, Kampanye Telkom Flexi.
Candidate-Oriented Campaigns
• Kampanye yg berorientasi pada kandidat, umumnya dimotivasi karena hasrat untuk kepentingan politik.
• Kampanye Pemilu, Kampanye Penggalangan Dana bagi partai politik.
Ideologically or Cause Oriented Campaigns.
• Kampanye yg berorientasi pada kandidat, umumnya dimotivasi karena hasrat untuk kepentingan politik.
• Kampanye Pemilu, Kampanye Penggalangan Dana bagi partai politik.

Fungsi Public Relations

(ditujukan sebagai materi kuliah tambahan pada mata kuliah Dasar-Dasar Kehumasan Jurusan Public Relations Bina Sarana Informatika. Mudah-mudahan bermanfaat….)

Public Relations adalah “fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut”. Sedangkan  Jefkins (2003:10) mengemukakan Public Relations adalah “semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian”.     Demikian dikemukakan Cutlip, et al. (2009:6).

Beberapa konsep Public Relations tersebut mengarahkan pada tugas-tugas  PR yang cukup signifikan dalam sebuah organisasi. Berkaitan dengan hal tersebut, Rumanti (2005:39) mengelompokkan tugas Public Relations menjadi lima bagian yaitu :

  1. Menyelenggarakan dan bertanggungjawab atas penyampaian informasi secara lisan, tertulis, melalui gambar (visual) kepada publik, supaya publik mempunyai pengertian yang benar tentang organisasi atau perusahaan, tujuan, serta kegiatan yang dilakukan.
  2. Memonitor, merekam, dan mengevaluasi tanggapan serta pendapat umum atau masyarakat. Di samping itu, menjalankan dan bertanggungjawab terhadap kehidupan kita bersama dengan lingkungan.
  3. Memperbaiki citra organisasi. Bagi Public Relations, menyadari citra yang baik tidak hanya terletak pada bentuk gedung, persentasi, publikasi, dan seterusnya, tetapi terletak pada:
    1. Bagaimana organisasi bisa mencerminkan organisasi yang dipercayai, memiliki kekuatan, mengadakan perkembangan secara berkesinambungan yang selalu terbuka untuk dikontrol, dievaluasi.
    2. Dapat dikatakan bahwa citra tersebut merupakan gambaran komponen yang kompleks.
  4. Tanggung jawab sosial. Public Relations merupakan instrumen untuk bertanggung jawab terhadap semua kelompok yang berhak terhadap tanggung jawab tersebut. Terutama kelompok publik sendiri, publik internal, dan pers.
  5. Komunikasi. Public Relations mempunyai bentuk komunikasi yang khusus, komunikasi timbal-balik, maka pengetahuan komunikasi menjadi modalnya. Dalam fungsinya, komunikasi itu sentral. Perlu juga untuk dimiliki adalah pengetahuan manajemen dan kepemimpinan, struktur organisasi.

Sementara itu, sepuluh kategori yang meringkaskan apa yang dilakukan oleh spesialis Public Relations di tempat kerja menurut Cutlip, et al. (2009:40):

  1. Menulis dan mengedit.

Menyusun rilis berita dalam bentuk cetak atau siaran, cerita feature, newsletter untuk karyawan dan stakeholder eksternal, korespondensi, pesan website dan pesan media online lainnya, laporan tahunan dan shareholder, pidato, brosur, film dan script slide-show, artikel publikasi perdagangan, iklan institusional, dan  materi-materi pendukung teknis lainnya.

  1. Hubungan Media dan Penempatan Media.

Mengontak media koran, majalah, suplemen mingguan, penulis freelance, dan publikasi perdagangan agar mereka mempublikasikan atau menyiarkan berita dan feature tentang organisasi yang ditulis oleh organisasi itu sendiri atau oleh orang lain.

  1. Riset.

Mengumpulkan informasi tentang opini publik, tren, isu yang sedang muncul, iklim politik dan peraturan perundangan, liputan media, opini kelompok kepentingan dan pandangan-pandangan lain berkenaan dengan stakeholder organisasi.

  1. Manajemen dan Administrasi.

Pemrograman dan perencanaan dengan bekerjasama dengan manajer lain; menentukan prioritas, mendefinisikan publik, setting dan tujuan, dan mengembangkan strategi dan taktik. Menata personel, anggaran, dan jadwal program.

  1. Konseling.

Memberi saran kepada manajemen dalam masalah sosial, politik, dan peraturan; berkonsultasi dengan tim manajemen mengenai cara menghindari atau merespon krisis; dan bekerja bersama pembuat keputusan kunci untuk menyusun strategi untuk mengelola atau merespon isu-isu yang ssensitif dan kritis.

  1. Acara Spesial.

Mengatur dan mengelola konferensi pers, lomba lari 10K, konvensi, open house, pemotongan pita dan grand opening, perayaan ulang tahun, acara pengumpulan dana, mengunjungi tokoh terkemuka, mengadakan kontes, program penghargaan, dan kegiatan khusus lainnya.

  1. Pidato.

Tampil di depan kelompok, melatih orang untuk memberikan kata sambutan dan mengelola biro juru bicara untuk menjelaskan platform organisasi di depan audien penting.

  1. Produksi.

Membuat saluran komunikasi dengan menggunakan keahlian dan pengetahuan multimedia, termasuk seni, tipografi, fotografi, tata letak, dan computer desktop publishing; perekaman audio dan video dan editing; dan menyiapkan presentasi audiovisual.

  1. Training.

Mempersiapkan eksekutif dan juru bicara lain untuk menghadapi media dan tampil di hadapan publik. Memberi petunjuk kepada orang lain di dalam organisasi untuk meningkatkan keahlian menulis dan berkomunikasi. Membantu memperkenalkan perubahan dalam kultur, kebijakan, struktur, dan proses organisasional.

  1. Kontak.

Bertugas sebagai penghubung (liaison) dengan media, komunitas, dan kelompok internal dan eksternal lainnya. Sebagai mediator antara organisasi dan stakeholder penting dengan bertugas untuk mendengarkan pandangan, menegosiasikan, mengelola konflik dan menjalin kesepakatan.

Dalam konsepnya, fungsi Public Relations Officer ketika menjalankan tugas dan operasionalnya, baik sebagai komunikator dan mediator, maupun organisator, berdasarkan hal tersebut Onong Uchana Effendi mendeskripsikan beberapa fungsi PR sebagai berikut :

  1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi.
  2. Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publik internal dan publik eksternal.
  3. Menciptakan komunikasi dua arah dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publiknya dan menyalurkan opini publik kepada organisasi.
  4. Melayani publik dan menasihati pimpinan organisasi demi kepentingan umum.
  5. Operasionalisasi dan organisasi Public Relations adalah bagaimana membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publiknya, untuk mencegah terjadinya rintangan psikologis, baik yang ditimbulkan dari pihak organisasi maupun dari pihak publiknya.

Cutlip, et al. (2009:11) menerangkan bahwa bagian-bagian dari fungsi Public Relations adalah sebagai berikut :

  1. Hubungan Internal

Hubungan internal adalah bagian khusus dari Public Relations yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling bermanfaat antara manajer dan karyawan tempat organisasi menggantungkan kesuksesannya.

  1. Publisitas

Publisitas adalah informasi yang disediakan oleh sumber luar yang digunakan oleh media karena informasi itu memiliki nilai berita. Metode penempatan pesan di media ini adalah metode yang bisa dikontrol (uncontrolled) sebab sumber informasi tidak memberi bayaran kepada media untuk pemuatan informasi tersebut.

  1. 3. Advertising

Advertising adalah informasi yang ditempatkan di media oleh sponsor tertentu yang jelas identitasnya yang membayar untuk ruang dan waktu penempatan informasi tersebut. Ini adalah metode terkontrol dalam menempatkan pesan di media.

  1. 4. Press Agentry

Press Agentry adalah penciptaan berita dan peristiwa yang bernilai berita untuk menarik perhatian media massa dan mendapatkan perhatian publik.

  1. 5. Public Affairs

Public affairs adalah bagian khusus dari Public Relations yang membangun dan mempertahankan hubungan pemerintah dan komunitas lokal dalam rangka mempengaruhi kebijakan publik.

  1. 6. Lobbying

Lobbying adalah bagian khusus dari Public Relations yang berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan dengan pemerintah terutama dengan tujuan mempengaruhi penyusunan undang-undang dan regulasi.

  1. Manajemen Isu

Manajemen isu adalah proses proaktif dalam mengantisipasi, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan merespon isu-isu kebijakan publik yang memengaruhi hubungan organisasi dengan publik mereka.

  1. Hubungan Investor

Hubungan investor adalah bagian dari Public Relations dalam perusahaan korporat yang membangun dan menjaga hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan dengan shareholder dan pihak  lain di dalam komunitas keuangan dalam rangka memaksimalkan nilai pasar.

  1. Pengembangan

Pengembangan adalah bagian khusus dari Public Relations dalam organisasi nirlaba yang bertugas membangun dan memelihara hubungan dengan donor dan anggota dengan tujuan mendapatkan dana dan dukungan sukarela.

Dalam konsepnya, fungsi Public Relations Officer ketika menjalankan tugas dan operasionalnya, baik sebagai komunikator dan mediator, maupun organisator, berdasarkan hal tersebut Onong Uchana Effendi mendeskripsikan beberapa fungsi PR sebagai berikut :

  1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi.
  2. Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publik internal dan publik eksternal.
  3. Menciptakan komunikasi dua arah dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publiknya dan menyalurkan opini publik kepada organisasi.
  4. Melayani publik dan menasihati pimpinan organisasi demi kepentingan umum.
  5. Operasionalisasi dan organisasi Public Relations adalah bagaimana membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publiknya, untuk mencegah terjadinya rintangan psikologis, baik yang ditimbulkan dari pihak organisasi maupun dari pihak publiknya.

Cutlip, et al. (2009:11) menerangkan bahwa bagian-bagian dari fungsi Public Relations adalah sebagai berikut :

  1. Hubungan Internal

Hubungan internal adalah bagian khusus dari Public Relations yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling bermanfaat antara manajer dan karyawan tempat organisasi menggantungkan kesuksesannya.

  1. Publisitas

Publisitas adalah informasi yang disediakan oleh sumber luar yang digunakan oleh media karena informasi itu memiliki nilai berita. Metode penempatan pesan di media ini adalah metode yang bisa dikontrol (uncontrolled) sebab sumber informasi tidak memberi bayaran kepada media untuk pemuatan informasi tersebut.

  1. 3. Advertising

Advertising adalah informasi yang ditempatkan di media oleh sponsor tertentu yang jelas identitasnya yang membayar untuk ruang dan waktu penempatan informasi tersebut. Ini adalah metode terkontrol dalam menempatkan pesan di media.

  1. 4. Press Agentry

Press Agentry adalah penciptaan berita dan peristiwa yang bernilai berita untuk menarik perhatian media massa dan mendapatkan perhatian publik.

  1. 5. Public Affairs

Public affairs adalah bagian khusus dari Public Relations yang membangun dan mempertahankan hubungan pemerintah dan komunitas lokal dalam rangka mempengaruhi kebijakan publik.

  1. 6. Lobbying

Lobbying adalah bagian khusus dari Public Relations yang berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan dengan pemerintah terutama dengan tujuan mempengaruhi penyusunan undang-undang dan regulasi.

  1. Manajemen Isu

Manajemen isu adalah proses proaktif dalam mengantisipasi, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan merespon isu-isu kebijakan publik yang memengaruhi hubungan organisasi dengan publik mereka.

  1. Hubungan Investor

Hubungan investor adalah bagian dari Public Relations dalam perusahaan korporat yang membangun dan menjaga hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan dengan shareholder dan pihak  lain di dalam komunitas keuangan dalam rangka memaksimalkan nilai pasar.

  1. Pengembangan

Pengembangan adalah bagian khusus dari Public Relations dalam organisasi nirlaba yang bertugas membangun dan memelihara hubungan dengan donor dan anggota dengan tujuan mendapatkan dana dan dukungan sukarela.

Dengan berbagai penjelasan di atas, jelaslah bahwa Public Relations adalah fungsi manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya, PR menyangkut aktivitas komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerjasama; melibatkan manajemen dalam menghadapi persoalan atau permasalahan, membantu manajemen untuk mampu menanggapi opini publik; mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif; bertindak sebagai sistem peringatan dini dalam mengantisipasi kecenderungan penggunaan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama. (mengutip International Public Relations Association /IPRA)

* berdasarkan uraian di atas, bagaimana seharusnya posisi PR secara struktural dalam sebuah organisasi? sertakan juga argumen anda.

Arizka Latifa

Perkenalkan.. saya Arizka...

tipe Kepribadian

KEPRIBADIAN EKSTROVERT & INTROVERT

A. PENDAHULUAN
Kepribadian seringkali diartikan sebagai bauran yang unik dari ciri-ciri fisik dan mental yang ada dalam diri seseorang. Misalnya, jika Anda mengambil karakteristik-karakteristik fisik (mata, senyum, sosok tubuh, dan sebagainya) dan karakteristik-karakteristik mental (kebijaksanaan, toleransi, ketekunan, dan sebagainya) kemudian menggabungkannya, kombinasi yang muncul merupakan Kepribadian seseorang.
Kepribadian seseorang ada dalam benak orang-orang lain. Bagaimana orang lain menafsirkan kepribadian Anda merupakan kunci untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kepribadian Anda sendiri. Kepribadian Anda lebih terletak pada apa yang Anda tampilkan dan bukan pada bagaimana Anda memandang diri Anda sendiri.

B. PEMBAHASAN
Menurut Horton (1982) Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan temparmen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan prilaku yang baku, atau pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.
Sementara itu, Schever Dan Lamm (1998) mendefinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri kas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atu baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi. Kepribadian merupakan cara yang khas dari individu dalam berperilaku dan merupakan segala sifatnya yang menyebabkan dia dapat dibedakan dengan individu lain (Maramis, 1990:746).
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan pola perilaku yang khas dari individu yang membedakannya dengan individu yang lain dimana kepribadian ini merujuk pada pola pikiran dan perasaan serta perilaku yang digunakan oleh individu untuk melakukan proses penyesuaian diri dengan lingkungannya sepanjang rentang kehidupan.
Hall dan Lindzey (1993:192) membedakan dua orientasi utama kepribadian, yakni ekstravert dan introvert. Kedua sikap yang berlawanan ini ada dalam kepribadian tetapi biasanya salah satu diantaranya dominan dalam sadar, sedangkan yang lain kurang dominan dan tak sadar. Apabila ego lebih bersifat ekstravert dalam relasinya dengan dunia, maka ketidaksadaran pribadinya akan bersifat introvert.
Individu yang ekstravert terutama dipengaruhi oleh dunia obyektif, yaitu dunia di luar dirinya. Orientasi terutama tertuju ke luar, fikiran, perasaan, serta tindakan-tindakannya ditentukan oleh lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial. Individu yang introvert merupakan kebalikan dari ekstravert, yaitu dipengaruhi oleh dunia subyektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasi terutama tertuju ke dalam, fikiran, perasaan, serta tindakan-tindakan terutama ditentukan oleh faktor subyektif (Suryabrata, 1990:190).
Individu yang dikategorikan pada tipe ekstravert berorientasi pada dunia kenyataan obyektif luar, dimana individu tersebut bersifat terbuka dan suka bergaul dengan individu-individu lain, serta tampak sungguh-sungguh senang bersahabat dengan individu-individu yang lain. Sebaliknya, individu yang introvert berorientasi pada kehidupan batin yang subyektif dan mungkin menjadi introspektif, suka meyendiri dan pemalu.

a. Tipe Kepribadian Ekstravert
Pasaribu (1984:227-228) menyatakan bahwa individu dengan pribadi ekstravert yaitu individu yang melihat pada kenyataan dan keharusan, tidak lekas merasakan kritik, ekspresi emosinya spontan, dan dirinya tidak dituruti dalam alasannya, tidak begitu merasakan kegagalannya, tidak banyak mengadakan analisa dan kritik sendiri. Individu dengan tipe kepribadian ekstravert memiliki kendali diri yang kuat. Ketika dihadapkan pada rangsangan-rangsangan traumatik, individu bertipe kepribadian ekstravert akan menahan diri, artinya dia tidak akan ”mengacuhkan” trauma yang dialami dan karenanya tidak akan terlalu teringat akan apa yang terjadi (Boree, 2005:233).
Individu-individu yang memiliki kepribadian ekstravert bersikap positif terhadap masyarakatnya, hatinya terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan individu lain lancar. Bahaya bagi tipe kepribadian ekstravert ialah apabila ikatan terhadap dunia luar terlampau kuat, sehingga akan menyebabkan ia tenggelam di dalam dunia obyektif, kehilangan diri atau asing terhadap dunia subyektifnya sendiri (Suryabrata, 1990:190).
Berdasarkan uraian-uraian tersebut, maka disimpulkan bahwa sifat-sifat imdividu tipe ekstravert:
1) Cenderung menyukai pertisipasi dalam realita sosial, dalam dunia obyektif dan dalam peristiwa-peristiwa praktis lancar dalam pergaulan. 2) Bersikap realitas, aktif dalam bekerja dan komunikasi sosialnya baik (positif), serta ramah tamah. 3) Gembira dalam hidup, bersikap spontan dan wajar dalam ekspresi serta menguasai perasaan. 4) Bersikap optimis, tidak putus asa dalam menghadapi kegagalan atau dalam menghadapi konflik-konflik pekerjaan selalu tenang, bersikap suka mengabdi. 5) Tidak begitu banyak pertimbangan, ceroboh dan kadang-kadang tidak terlalu banyak melakukan analisa serta kurang kritik diri, berpikir kurang mendalam. 6) Relatif bersikap bebas dalam berpendapat, mempunyai cita-cita yang bebas.
7) Meskipun ulet dalam berpikir namun mempunyai pandangan yang pragmatis, di samping punya sifat keras hati.

b. Tipe Kepribadian Introvert
Individu dengan tipe kepribadian introvert mengacu pada individu yang tertutup, ragu-ragu, pemikir, suka merunung, kurang spontan, tujuannya tersembunyi, agak defensif, tidak mudah percaya dan hati-hati.
individu dengan tipe kepribadian introvert ialah individu yang suka memikirkan tentang diri sendiri, banyak fantasi, lekas merasakan kritik, menahan ekspresi emosinya, lekas tersinggung dalam latihan, suka membesarkan kesalahan kecil, analisa dan kritik sendiri menjadi buah pikirannya (Pasaribu, 1984:227-228).
Individu introvert memiliki kendali diri yang buruk. Ketika mengalami trauma yang sama seperti orang ekstravert tadi, otaknya tidak terlalu sigap melindungi diri dan ”berdiam diri”, akan tetapi malah membesar-besarkan persoalan dan mempelajari detail-detail kejadian sehingga individu ini dapat mengingat apa yang terjadi dengan sangat jelas (Boeree, 2005:234).
Gambaran tipe kepribadian introvert menurut Pervin (1984:271-272) merupakan individu yang tenang, mawas diri, bersikap hati-hati, pemikir, kurang percaya pada keputusan yang impulsif, lebih suka hidup teratur, pemurung, kuatir, kaku, sederhana, pesimis, suka menyendiri, kurang suka bergaul, pendiam, pasif, berhati-hati, tenggang rasa, damai, terkendali, dapat diandalkan, mampu menguasai diri, dan tenang.
Individu-individu yang mempunyai kepribadian introvert penyesuaiannya Dengan dunia luar kurang baik: jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan individu lain, kurang dapat menarik individu lain. Penyesuaian dengan batinnya sendiri baik. Bahaya tipe introvert ialah jika jarak dengan dunia obyektif terlalu jauh, maka individu dengan tipe kepribadian ini dapat lepas dari dunia obyektifnya (Suryabrata, 1990:190).

Berdasarkan uraian-uraian di atas maka sifat-sifat manusia tipe introvert:
1) Cenderung lebih suka ”memasuki” dunia imaginer, biasa merenung yang kretif. 2) Produksi dan ekspresi-ekspresinya diwarnai oleh perasaan-perasaan yang subyektif, pusat kesadaran dirinya adalah kepada egonya sendiri dan sedikit perhatian pada dunia luar. 3) Perasaan halus dan cenderung untuk tidak melahirkan emosi secara menyolok; biasanya melahirkan ekspresinya dengan cara-cara yang halus yang jarang ditemukan pada individu-individu yang lain. 4) Sikapnya ”tertutup”, sehingga jika ada konflik-konflik disimpannya dalam hati dan ia berusaha menyelesaikannya sendiri. 5) Banyak pertimbangan, sering suka mengadakan analisis dan kritik diri. 6) Sensitif terhadap kritik, pengalaman-pengalaman pribadi bersikap mengendap dalam kenangan yang kuat, apalagi hal-hal yang bersifat pujian atau celaan tentang dirinya. 7) Pemurung, dan cenderung selalu bersikap menyendiri, serta kurang bergaul. 8) Lemah lembut tindak dan sikapnya, serta punya pandangan idealistis.

C. KESIMPULAN
Dari pendapatdi atas, ciri kedua tipe kepribadian tersebut menjadi:
1) Tipe kepribadian ekstravert, adalah bagaimana individu menampilkan penyesuaian dirinya sehari-hari yang secara tipikal terbuka, peramah, mudah bergaul, suka kegembiraan, banyak teman, spontan, spekulatif, optimis, agresif, impulsif, mudah tersinggung, menggampangkan sesuatu, dan ceroboh.
2) Tipe kepribadian introvert, adalah bagaimana individu menampilkan penyesuaian dirinya sehari-hari yang secara tipikal cenderung tertutup, pendiam, kaku, suka mawas diri, penyendiri, tidak spekulatif, kurang suka bergaul, teman terbatas, pesimis, hati-hati, dapat menguasai diri.

Berdasarkan uraian di atas, termasuk tipe yang manakah anda???

Komunikasi Antar Pribadi

PENGERTIAN KAP
Josef A. Devito
Proses penyampaian dan penerimaan pesan diantara dua orang atau kelompok kecil, dengan efek dan feed back langsung.

J. Dan Rothwell
“Interaksi antara individu yang dilakukan secara langsung, sadar dan tatap muka dalam situasi yang dialogis”
Terjadi sharing pengalaman, ide, pesam dsb.

Richard H. Blake
Komunikasi langsung antara dua orang atau lebih dalam jarak fisik yang mana kelima indera dapat digunakan dan feed back langsung ada didalamnya.

Robert G. King
Komunikasi orang ke orang (antarpersona) dimana dua orang termasuk dalam proses.

Carl I. Hovland
Situasi interaksi antara individu (komunikator) mengirim rangsangan (biasanya dalam simbol verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikati) dalam situasi tatap muka.

KARAKTERISTIK K A P
a. dalam K A P terjadi Komunikasi Intrapersona (KIP).
b. merupakan proses interaksi (komunikasi) antara dua orang atau lebih.
c. dilakukan secara sadar, langsung dan situasi dialogis (sharing) ada pergantian fungsi. (tatap muka)
d. dalam jarak fisik kelima indera dapat digunakan.
e. terjadi efek dan feed back langsung, meskipun menggunakan media umum (telepon telex dsb.)

TUJUAN
a. Belajar seluruh pengetahuan dari orang lain dan keahlian.
b. Mengeratkan dan memelihara hubungan interpersonal.
c. Mempengaruhi, mengontrol, memanipulasi
d. Kesenangan diri, melepas kepenatan pekerjaan.
e. Menolong, melayani dan konsultasi dengam orang lain.
f. Mengenal diri sendiri.

MOTIVASI
a. Kebutuhan untuk mengetahui dan mempelajari pengetahuan.
b. Kebutuhan membangun hubungan, erat dengan orang lain, untuk berinteraksi.
c. Kebutuhan akan mempengaruhi, memimpin, mencari dukungan, menjaga persetujuan.
d. Kebutuhan akan hiburan, kesenangan, kepuasan.
e. Kebutuhan akan menolong, melayani, menjadi teman, merasa dibutuhkan, memperoleh kebahagiaan.

Akibat:
a. Meningkatkan pengetahuan tentang diri, oramg lain, mendapatkan keahlian.
b. Terbentuknya hubungan dan pemeliharaan, persahabatan.
c. Mendapat pengaruh, kekuasaan, kontrol, dukungan, persetujuan.
d. Mendapat kesenangan, hiburan, kepuasan.
e. Pemandu, petunjuk, dalam memutuskan sikap dan perilaku.

Dalam proses KAP terdapat beberapa komponen :
Komunikator Komunikan
- source – receiver
- encoding – decoding
- copetence - competence
- feild of exp - field of exp.

Sesuai dengan karakteristik K A P maka terjadi saling pergantian fungsi dengan melewati komponen :
- channel
- message
- noise
- contect
- effect
- ethics

Copetence :
kemampuan dalam bahasa, komunikasi, mengungkapkan dengan bahasa, merangkai kalimat, kata, dengan bahasa nasional, daerah. Kemampuan dalam komunikasi, mengungkapkan ide-ide, aturan interaksi dengan sosial, sikon.

Contect : meliputi konteks fisik, sosial, psycological, temporal.

Bentuk Komunikasi Antarpersona
1. Diadik Komunikasi
yaitu : komunikasi yang terjadi antara dua orang, di dalamnya terdapat pertukaran fungsi, ide-ide dan mempunyai tujuan. a – b

2. Triadik Komunikasi
yaitu : komunikasi yang terjadi diantara tiga orang, di dalamnya terdapat komunikasi diadik, terjadi pertukaran fungsi, mempunyai tujuan tertentu.
a b c ——– a – c, a – b, b – c

3. Penggabungan diadik
yaitu komunikasi yang terjadi di antara dua kelompok, misal : ayah, boy, – ibu, girl.

4. Small group
yaitu interaksi tatap muka dari tiga individu atau lebih dengan tujuan yang sudah diketahui sebelumnya seperti berbagai informasi, pemeliharaan diri, solve problem, yang anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota kelompok lain dengan tepat.

5. Interview, yang tujuanya untuk mencari data.

K A P dapat terjadi di dalam anggota keluarga, kelompok diskusi, pacaran, ngobrol, wawancara, dsb.

Perbedaan antara K A P dengan small group
K A P dapat terjadi secara spontan, anggota tidak tersusun, anggota tidak bertanggung jawab pada kelompok.
Small group, tidak spontan, sudah tertentu anggotanya, adanyaketerlibatan terhadap kelompok.

Perbedaannya
Keduanya menggunakan komunikasi tatap muka, melibatkan tiga individu atau lebih (masuk syarat K A P).
Bila suatu kelompok mewakilkan seseorang untuk bicara didepan umum, atau kelompok lain mewakilkan seseorang yang lain, kemudian terjadi komunikasi antar wakil tadi jenis komunikasi yang terjadi komunikasi antar kelompok bukan komuniaksi antarpersona, tapi bila pesan (isi) yang disampaikan oleh para wakil tadi sudah menyangkut masalah pribadi dari wakil tadi, bukan membicarakan atas kepentingan kelompok maka komunikasi itu termasuk K A P.

Efektivitas dan hambatan K A P
Berbicara tentang ini ada dua persepsi :
1. Pandangan humanistik
2. Pandangan pragmatik/behaviour.

Perspektif Humanistik
Menekankan pada keterbukaan(openess), empati (empaty) suportif (supportive), saling mengerti (equality), kejujuran (Possitiveness).
Orang-orang yang membentuknya : Maslow, Gordon Allfart, Carl Rogers.

Keterbukaan
Dalam kualitas ada tiga aspek :
1. terbuka pada siapa saja dalam berinteraksi , membuka diri, membuka informasi tentang diri.
2. ada keinginan seseorang komunikator bereaksi secara jujur pada stimuli yang datang dari komunikatie
3. mempunyai perasaan yang dinyatakan dalam milik “kita” dan mempertanggungjawabkannya

Empaty
Adalah kemampuan meresapkan diri untuk mengerti apa yang dirasakan orang lain, emosi dan intelektual. Empati akan kecil artinya bila kita tidak mampu mengkomunikasikan dengan orang lain. Fokus dari empati ada tiga hal :
1. menghindari penilaian tingkah laku orang lain,
2. belajar sebanyak-banyaknya tentang keinginan orang lain dengan pengalaman, kemampuan, dan perasaan, maka akan terlihat atau diketahui motivasinya.
3. mencoba merasakan dengan cara pandang orang lain.

Suportif atau dukungan
Menjelaskan apa adanya secara deskriptif tentang sesuatu hal kepada orang lain guna mendukung membesarkan hati orang, bukan evaluatif atau penilaian.
Misal : saya tak tahan melihat kamu, dengan rambut yang hitam, mata hitam kecoklatan, kulit putih halus mulus.
Orang akan cenderung marah atau tidak suka bila pembicaraan kita diawali dengan koreksi.

Possitiveness
Komunikasi yang mengarahkan pada hubungan yang positif. Ada dua cara dalam membentuk komunikasi positif :
1. menyatakan tingkah laku positif
2. menggunakan gaya dengan dia dalam berinteraksi
Tingkah laku positif merujuk pada dua aspek :
1. Orang yang menilai negatif akan mengkomunikasikan perasaannya pada orang lain secara negatif pula.
2. Perasaan positif pada situasi komunikasi adalah penting untuk berinteraksi secara efektif.

Kesamaan (equality)
Adanya kesamaan fungsi antara komunikator dengan komunikati dan pengertian bersama. Ada beberapa cara agar komunikasi equal :
1. Menghindari pernyataan yang tidak sama, misalnya dengan kata…sebaiknya…, seharusnya…intinya jangan memaksa orang lain.
2. Menghindari penilaian
3. Menerima dan mengakui pendapat orang lain
4. Menghindari koreksi, jadi meng-iyakan tapi bila ingin mengoreksi hendaknya dengan bahasa yang halus dan sopan.

Humanistic Model of Effectiveness

Characteristic
Openess Definition
reaksi pengaturan penyingkapan diri pada orang lain melalui pikiran dan perasaan
Empaty perasaan seperti orang lain rasakan
Supportiveness menjelaskan dan menyanjung atau mendukung
Possitiveness ekspresi diri dalam menilai perilaku positif terhadap diri, orang lain dan situasi.
Equality pengakuan, antar bagian ( komunikator – komunikati) dalam membagi fungsi komunikasi, ada pergantian fungsi (simultan)

Perspektif Pragmatik/Behaviour/Competence Model
Perspektif ini menekankan pada manajemen interaksi (interactive management), menunjukkan pada kualitas yang seimbang guna mencapai tujuan yang diinginkan.

Confidence
Kepercayaan pada apa yang dibicarakan, karena mempunyai keterampilan, kemampuan dan kepercayaan sosial. Diyakini oleh komunikati, sehingga ia dapat terbuka terhadap komunikator. Berikut cara mengsugesti orang lain :
1. Ambil inisiatif pengenalan dan memulai topik pembicaraan.
2. Ajukan pertanyaan pembuka dan penutup yang melibatkan orang lain berinteraksi lebih lanjut.
3. Pernyataan bahwa anda menaruh perhatian padanya.

Immediacy
Kesediaan untuk berkomunikasi (mau mendengar dan berbicara) dengan bahasa verbal maupun non verbal. dengan :
 menyebutkan nama
 menggunakan istilah yang menyangkut keduanya “kami”
 feed back yang relevan menunjukan hubungan
 pemusatan perhatian pada pembicara
 menguatkan, menghargai, melengkapi pembicaraan lawan bicara
 evaluasi melalui keterangan diri
 menunjukan pada proksemik : jarak yang dekat/akrab
 kinesik : perilaku lemah lembut/sopan
 wajah dengan senyuman kecil
 artifaktual dengan penampilan yang mengesankan
 paralinguistik : tanpa bicara (dengan anggukan kepala), dialek dan interaksi.

Interactions Management : menunjukan kualitas yang seimbang, pergantian fungsi, sehingga tujuan tercapai.

Ekspresiveness : menggunakan lambang-lambang verbal dan non verbal dalam berinteraksi.

Other Orientation : memperhatikan pendapat orang lain, kita terima dengan sopan sehingga kita tahu motivasi orang tersebut yang menjadi lawan bicara.

teori produksi pesan

TEORI-TEORI PRODUKSI PESAN A. PENDAHULUAN Dalam proses komunikasi, pesan merupakan sekumpulan lambang komunikasi yang memiliki makna dan kegunaan dalam menyampaikan suatu ide gagasan kepada manusia lain. Pesan dirancang oleh komunikator untuk disampaikan kepada komunikan melalui saluran komunikasi tertentu. Penyandian pesan (encoding) akan disesuaikan dengan karakteristik saluran pesan yang dipilih untuk menyampaikan pesan kepada komunikan. Karena saluran komunikasi menentukan bagaimana suatu pesan dikemas. Pesan yang sampai kepada komunikan akan diterima melalui proses pemaknaan pesan (decoding). Menurut Ritonga, (2005:20) pesan yang disampaikan kepada komunikan pada dasarnya merupakan refleksi dari persepsi atau perilaku komunikan sendiri. Komunikator dalam merancang pesan berorientasi (berpedoman) pada komunikan agar ditafsirkan sama dan diharapkan dapat mempengaruhi komunikan untuk bersikap dan berperilaku sesuai yang diharapkan komunikator. Pesan menurut Vardiansyah, (2004:60) adalah segala sesuatu yang disampaikan komunikator pada komunikan untuk mewujudkan motif komunikasinya. Pesan pada dasarnya bersifat abstrak. untuk membuatnya konkret manusia dengan akal budinya menciptakan lambang komunikasi: mimik, gerak gerik, suara, bahasa lisan dan bahasa tulisan. Karena itu, lambang komunikasi adalah bentuk atau wujud konkret dari pesan. Lambang komunikasi diartikan sebagai kode atau simbol, atau tanda yang digunakan komunikator untuk mengubah pesan yang abstrak menjadi konkret. Komunikan tidak akan tahu apa yang kita pikirkan dan rasakan sampai kita mewujudkan pesan dalam salah satu bentuk lambang komunikasi; mimik, gerak-gerik, suara, bahasa lisan, dan atau bahasa tulisan. (Vardiansyah, 2004:61) Sebuah pesan tidak lahir begitu saja, tapi melewati suatu proses tertentu yang -disadari atau tidak disadari oleh pembuatnya—memengaruhi corak pesan tersebut. Pada pembahasan kali ini kami membahas mengenai teori-teori produksi pesan yang dibahas oleh Stephen W Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication dan Kathrine Miller dalam bukunya ”Communication Theories : Perspectives, Processes, and Contexts” edisi kedua pada bab 7, serta referensi-referensi terkait lainnya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai teori-teori produksi pesan dengan menggunakan tiga tipe penjelasan psikologis: penjelasan sifat, penjelasan keadaan, dan penjelasan proses yang didalamnya terdapat teori-teori berikut ini : 1. Teori Akomodasi 2. Teori Konstruktivis 3. Teori Message Design Logis 4. Teori Action Assembly (Kumpulan Aksi) 5. Teori Perencanaan Dan Tujuan (Plain And Goal) B. PEMBAHASAN Komunikasi adalah proses yang berpusat pada pesan bersandar pada informasi. Teori-teori yang dikemukakan pada pembahasan kali ini berpusat pada individual. Teori-teori produksi pesan oleh Littlejohn (2002 : 176) menggunakan tiga tipe penjelasan psikologis: penjelasan sifat, penjelasan keadaan, dan penjelasan proses. Yang secara jelas akan diuraikan berikut ini : 1. Penjelasan sifat Penjelasan sifat berfokus pada karakteristik individual yang relatif statis dan cara karakteristik ini berasosiasi dengan sifat-sifat dan variabel lain-hubungan antara tipe personalitas tertentu dan jenis-jenis pesan tertentu. Teori-teori ini memprediksikan bahwa ketika anda memiliki sifat personalitas tertentu, anda akan cenderung berkomunikasi dengan cara-cara tertentu. Contohnya, orang dengan personalitas argumentatif menyukai berdebat. dalam bagian ini littlejohn (2005: 177) berkonsentrasi pada beberapa hal yang menonjol. Ketakutan berkomunikasi Ketakutan akan komunikasi adalah problema praktis serius bagi banyak orang. Ketakutan komunikasi (Communication Appherension/CA) dapat merupakan sifat atau keadaan. Dalam hal ini terdapat tiga jenis CA. Pertama, Traitlike CA adalah tendensi yang abadi menjadi prihatin mengenai komunikasi dalam berbagai setting, dan individu yang menderita ketakutan jenis ini mungkin menghindari seluruh jenis komunikasi oral. Kedua, generalized-context CA, ketakutan seseorang terhadap beberapa jenis komunikasi tertentu seperti berbicara di depan publik, namun mungkin menampilkan sedikit ketakutan pada jenis komunikasi lainnya. Ketiga, Person-Group CA, takut akan komunikasi dengan orang spesifik atau kelompok tertentu seperti gelandangan. Sensitivitas retoris Sensitivitas retoris merupakan -tendensi untuk mengadaptasikan pesan ke audiens- ditemukan oleh Roderick Hart dan kolega-koleganya. Para ahli teori ini menemukan bahwa komunikasi efektif muncul dari sensitivitas dan perduli dalam menyesuaikan apa yang anda katakan terhadap pendengar. Sensitif retoris mewujudkan kepentingannya sendiri, kepentingan orang lain, dan sikap situasional. Orang-orang yang sensitif retoris menerima kompleksitas personal, memahami bahwa individu merupakan komposit dari banyak diri. Orang harus berhubungan dengan ”diri” yang beroperasi dalam situasi yang ada. Individu adaptis retoris menghindari kekakuan dalam berkomunikasi dengan yang lain, dan mereka berupaya menyeimbangkan kepentingan sendiri denngan kepentingan orang lain. Orang ini mencoba menyesuaikan apa yang mereka katakan pada level, mood, dan keyakinan orang lain. Idea usulan sensitifitas retoris adalah individu memiliki sifat atau gaya yang menonjol saat mereka berkomunikasi. Gaya komunikasi, diteliti oleh Robert Norton dan kolega-koleganya, berdasarkan pada ide bahwa kita berkomunikasi pada dua level. Kita bukan hanya memberi informasi, namun kita juga menyajikan bahwa inormasi dalam bentuk tertentu yang menyampaikan pada orang lain bagaimana memahami dan menanggapi suatu pesan. 2, Penjelasan situasi Keadaan pikiran dan perilaku manusia sangat banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, peristiwa persepsi terhadap situasi. Dalam bagian ini terdapat dua teori; teori umum dan teori khusus. 2.a. suatu pendekatan umum Michael Jody, Margaret Mclaughilin, dan koleganya telah melakukan riset yang sungguh-sungguh untuk mengetahui faktor-faktor situasional umum yang mempengaruhi pilihan pesan. Suatu situasi komunkasi merupakan peristiwa komunikasi yang menyeluruh termasuk partisipan (siapa), setting (dimana), dan aktivitas yang dilakukan (apa). Individu-individu menggunakan pengetahuan mereka mengenai situasi dengan sejumlah cara, salah satuya adalah mengevaluasi orang lain. Orang juga menggunakan situasional untuk menetapkan tujuan-tujuan komunikasi mereka. Pengetahuan situasional membantu kita menentukan mengapa kita ada di sana dan apa yang ingin kita selesaikan. Jadi jelaslah, bahwa cara orang berkomunikasi tergantung pada setidaknya tujuan-tujuan yang didefinisikan dalam situasi. Dan perilaku seseorang sering dipengaruhi oleh pengetahuan situasional. Akhirnya, dan yang mungkin paling penting orang menggunakan pengetahuannya terhadap situasi untuk memandu perilakunya. Bagaimana saya mencoba untuk membujuk orang lain untuk berubah? Bagaimana saya akan melakukannya? Bagaimana saya bicara? Akankah saya tinggal diam? Akankah saya menjadi jenaka dan luwes atau keras dan formal? Anda akan menjawab definisi ini berdasarkan definisi anda terhadap situasi itu. 2.b. suatu pendekatan khusus Janet Beavin Bavelas dan koleganya telah membatasi penelitiannya khususnya pada komunikasi equivokal atau pesan-pesan dengan sengaja tidak jelas. Pesan-pesan tersebut tidak langsung atau berterus terang dan pendengar harus menduga artinya daripada menangkapnya secara langsung. Kebanyakan orang menggunakan komunikasi equivokal dari waktu ke waktu untuk melindungi perasaan-perasaan orang lain dan lari dari akibat yang tidak menyenangkan dari kejelasan. Contoh, apa yang akan anda katakan bila seorang teman bertanya tentang pendapat anda mengenai pakaiannya yang seram? Anda berbohong dengan sengaja : ”buatannya menarik, saya tak pernah melihatnya sebelumnya”. Menurut ahli teori ini, seluruh komunikasi terdiri dari empat bagian proses yang sederhana :(1) saya, (2) mengatakan sesuatu, (3) kepada anda, (4) dalam situasi ini. kerja ini menunjukkan bahwa situasi dapat memiliki efek yang kuat pada perilaku komunikasi, terlepas dari tendensi individual. 3. Penjelasan Proses Teori proses berupaya menjelaskan mekanisme membuat pesan komunikasi. Dalam hal ini Litllejohn ( 2005: 169) mengemukakan beberapa teori yang drumuskan oleh beberapa ahli komunikasi diantaranya: 3.1 Teori Akomodasi Teori ini dikemukakan oleh Howard Giles dan koleganya, teori ini berkaitan dengan penyesuaian interpersonal dalam interaksi komunikasi. Hal ini didasarkan pada observasi bahwa komunikator sering kelihatan menirukan perilaku satu sama lain. Teori akomodasi komunikasi berawal pada tahun 1973, ketika Giles pertama kali memperkenalkan pemikiran mengenai model ”mobilitas aksen” Yang didasarkan pada berbagai aksen yang dapat didengar dalam situaisi wawancara. Teori akomodasi didapatkan dari sebuah penelitian yang awalnya dilakukan dalam bidang ilmu lain, dalam hal ini psikologi sosial. (West dan Lynn Turner, 2007: 217) Akomodasi didefinisikan sebagai kemampuan menyesuaikan, memodifikasi atau mengatur perilaku seseorang dalam responnya terhadap orang lain. Akomodasi biasanya dilakukan secara tidak sadar. Kita cenderung memiliki naskah kognitif internal yang kita gunakan ketika kita berbicara dengan orang lain. (West dan Lynn Turner, 2007: 217) Teori akomodasi menyatakan bahwa dalam percakapan orang memiliki pilihan. Mereka mungkin menciptakan komunitas percakapan yang melibatkan penggunaan bahasa atau sistem nonverbal yang sama, mereka mungkin akan membedakan diri mereka dari orang lain, dan mereka akan berusaha terlalu keras untuk beradaptasi. Pilihan-pilihan ini akan diberi label konvergensi, divergensi, dan akomodasi berlebihan. Proses pertama yang dhubungkan dengan teori akomodasi adalah konvergensi. Jesse Delia, Nikolas Coupland, dan Justin Coupland dalam West dan Lynn Turner (2007:222) mendefinisikan konvergensi sebagai ”strategi dimana individu beradaptasi terhadap perilaku komunikatif satu sama lain”. Orang akan beradaptasi terhadap kecepatan bicara, jeda, senyuman, tatapan mata, perilaku verbal dan nonverbal lainnya. Ketika orang melakukan konvergensi, mereka bergantung pada persepsi mereka mengenai tuturan atau perilaku orang lainnya. Selain persepsi mengenai komunikasi orang lain, konvergensi juga didasarkan pada ketertarikan. Biasanya, ketika para komunikator saling tertarik, mereka akan melakukan konvergensi dalam percakapan. Proses kedua yang dihubungkan dengan teori akomodasi adalah divergensi yaitu strategi yang digunakan untuk menonjolkan perbedaan verbal dan nonverbal di antara para komunikator. Divergensi terjadi ketika tidak terdapat usaha untuk menunjukkan persamaan antara para pembicara. Terdapat beberapa alasan mengapa orang melakukan divergensi, pertama untuk mempertahankan identitas sosial. Contoh, individu mungkin tidak ingin melakukan konvergensi dalam rangka mempertahankan warisan budaya mereka. Contoh, ketika kita sedang bepergian ke Paris, kita tidak mungkin mengharapkan orang Prancis agar melakukan konvergensi terhadap bahasa kita. Alasan kedua mengapa orang lain melakukan divergensi adalah berkaitan dengan kekuasaan dan perbedaan peranan dalam percakapan. Divergensi seringkali terjadi dalam percakapan ketika terdapat perbedaan peranan yang jelas dalam percakapan (dokter-pasien, orangtua-anak, pewawancara-terwawancara, dan seterusnya. Terakhir, divergensi cenderung terjadi karena lawan bicara dalam percakapan dipandang sebagai anggota dari kelompok yang tidak diinginkan, dianggap memiliki sikap-sikap yang tidak menyenangkan, atau menunjukkan penampilan yang jelek. Proses ketiga yang dapat dihubungkan dengan teori akomodasi adalah Akomodasi Berlebihan : Miskomunikasi dengan tujuan. Jane Zuengler (1991) dan West dan Lynn Turner (2007: 227) mengamati bahwa akomodasi berlebihan adalah ”label yang diberikan kepada pembicara yang dianggap pendengar terlalu berlebihan.” istilah ini diberikan kepada orang yang walaupun bertindak berdasarkan pada niat baik, malah dianggap merendahkan. 3.2. Action Assembly Theory / Teori Kumpulan Aksi (John Greene : 1984) John Greene dalam teorinya Action Assembly Theory menjelaskan tentang cara seseorang mengorganisasikan pengetahuan dengan pikiran dan menggunakannya untuk membentuk pesan. Teori ini menjelaskan struktur dan proses yang tersebut dalam aksi komunikatif. Teori ini menguji cara pengetahuan diurutkan dan digunakan dalam komunikasi. Greene menyebut dua komponen pengetahuan yakni pengetahuan isi (content knowledge) dan pengetahuan prosedural (procedural knowledge). You know about things, and you know how to do things (Terjemahan: Anda tahu tentang sesuatu, dan Anda tahu bagaimana melakukan sesuatu itu). Pengetahuan procedural terdiri dari suatu kesadaran akan konsekuensi dari berbagai aksi dalam situasi-situasi yang berbeda. Seluruh pengetahuan procedural kita terdiri dari sejumlah besar “catatan prosedural”, masing-masing disusun dari pengetahuan mengenai suatu aksi, hasilnya, dan situasi dimana ia sesuai. Karena orang ingat dari hasil aksi, mereka dapat berperilaku dengan efektif pada kesempatan mendatang. Sebagai contoh, bagaimana kita tahu cara-cara memeperkenalkan diri kepada orang lain pada suatu pesta? Dari pengalaman dan pegamatan terhadap orang lain yang melakukan hal itu, kita memiliki pengetahuan berbagai macam cara. Dalam Action Assembly Theory, procedural knowledge menjadi pusat perhatian utama. Greene menggambarkan cara kerja procedural knowledge seperti titik-titik (node) yang saling terhubung satu sama lain bagaikan website di internet. Node pengetahuan tersebut terutama yang berkaitan dengan perilaku, konsekuensi dan situasi. Ket. Gambar: Cara kerja procedural knowledge dengan node pengetahuan yang saling terhubung membentuk jejaring yang akhirnya menghasilkan sebuah pesan Sumber: http//bambangsukmawijaya.files.wordpress.com/2009/09/john-greene-theory/.jpg Greene memberi contoh ketika kita berjumpa seseorang, biasanya kita akan tersenyum dan mengucapkan, “Hai, apa kabar?” dan kemudian orang tersebut akan membalasnya dengan berkata, “Baik, bagaimana kabar Anda juga?”. Kita menyimpan ini dalam memori sebagai suatu pengetahuan yang saling berhubungan antara situasi menyapa seseorang, tindakan tersenyum, menggunakan kata-kata tertentu, dan mendapatkan hasil berupa balasan sapaan dari orang lain. Pada kasus yang lebih kompleks, hal-hal yang saling berkaitan semacam itu, di mana pada prosedur tertentu terdapat hubungan yang paling sering digunakan atau yang terakhir digunakan –sehingga menjadi semakin kuat, maka node pengetahuan itu akan membentuk modul-modul atau pola. Greene menyebut modul-modu tersebut sebagai procedural record, yaitu sekumpulan hubungan yang terbentuk oleh node dalam kegiatan jaringan yang cenderung menguat. Lebih lanjut, Greene juga menjelaskan bahwa jika hubungan pengetahuan tersebut menjelma menjadi beberapa himpunan kegiatan dalam urutan tindakan tertentu yang secara kuat saling berkelompok dan sering digunakan, maka akan menjadi tindakan yang terprogram. Greene mengistilahkan tindakan terprogram ini sebagai “unitilized assemblies”. Ritual memberikan salam seperti yang dipaparkan di atas merupakan contoh yang bagus mengenai “unitilized assemblies”. Menurut Greene, tidak ada tindakan tunggal yang dapat berdiri sendiri. Setiap tindakan memengaruhi tindakan yang lain dengan suatu cara tertentu. Untuk memperkenalkan diri misalnya, kita harus menggunakan berbagai tindakan mulai dari tekanan suara dengan kata-kata dan gerakan. Untuk menuliskan paragraf, kita harus menggabungkan berbagai aksi dari pengetahuan yang terkordinasi dalam bahasa untuk menulis atau mengetik. Tindakan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam jaringan pengetahuan. Setiap bagian pengetahuan merepresentasikan sesuatu untuk melakukannya. Tujuan yang lebih tinggi (seperti melakukan perkenalan) dan yang lebih rendah (seperti tersenyum) digabungkan dalam sebuah hasil representasi yang mengantarkan kita ke suatu tindakan komunikasi. (Littlejohn, 2005: 193-195). 3.3. Teori Konstruktivist Teori konstruktivis atau konstruktivisme (Miller, 2005 : 105) adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Delia dan rekan–rekan sejawatnya. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Konstruktivist melakukan pendekatan pemahaman produksi pesan dimulai dari system kognitif individu. George Keely dalam Ardianto (2007 : 158) menegaskan cara pandang pemahaman pribadi seseorang dilakukan dengan pengelompokan peristiwa menurut persamaan dan perbedaannya. Perbedaan ini menjadi dasar penilaian ihwal sistem kognitif individual yang besifat pribadi dan karenanya berbeda dengan konstruksi sosial. Aliran ini meyakini bahwa sistem kognitif individu berkembang kompleks. Individu yang cerdas secara kognitif dapat membuat banyak perbedaan dalam satu situasi dibanding orang yang secara kognitif lemah. Inilah yang disebut differensiasi kognitif. Differensiasi ini mempengaruhi bagaimana pesan menjadi kompleks. Delia dan koleganya kemudian menegaskan hubungan antara kompleksitas kognitif dengan tujuan dari pesan. Pesan sederhana hanya memiliki satu tujuan sementara pesan kompleks memiliki banyak tujuan. Dalam komunikasi antarpersona pesan-pesan sederhana berupaya mencapai keinginan satu pihak saja tanpa mempertimbangkan keinginan orang lain. Sementara pesan kompleks dirancang memenuhi kebutuhan orang lain. Pada pesan kompleks inilah komunikasi antarpersona dapat tercipta. Konstruksionisme dengan demikian dapat dikategorikan komunikasi yang berpusat pada orang (komunikasi berbasis diri) dan differensiasi kognitif menunjukkan adanya desain pesan. Komunikasi berbasis ”diri” Selain kompleksitas kognitif, komponen utama yang lain dari teori constructivist melibatkan pesan yang dihasilkan. Sekali lagi, beberapa teori dasar constructivis propositions menginformasikan tentang fitur komunikasi. Teori Bernstein (1975) menyatakan bahwa individu dalam melakukan sesuatu dikonstruksi oleh orientasi kehidupannya sendiri dan oleh orientasi posisi subjek itu dalam hidupnya. Individu yang berbasis subjek akan menggunakan elaborasi kode yang menghargai kecenderungan, perasaan, dari sudut pandang orang lain. Sebaliknya, individu berbasis posisi akan menggunakan kode-kode terbatas yang mengikuti aturan dan norma-norma situasi kutural tertentu. (MiIler, 2005: 107) Komunikasi berbasis diri adalah model komunikasi yang memeriksa proses lahirnya pesan berdasarkan orientasi diri. Menurut teori kalangan konstruktivits, pesan- pesan berbasis diri merefleksikan kewaspadaan dan adaptasi subjektif, afektif serta aspek relasional dalam konteks komunikasi. Sebuah pesan berbasis ”diri” merupakan suatu gagasan yang menyokong kebutuhan pendengarnya, perhatian atas situasi yang mungkin dan mengarah pada tujuan yang beragam. Selanjutnya kaum konstruktivis merumuskan tingkatan bagaimana sebuah pesan bisa berbasis ”diri” melalui pengkodean respons buka-tutup. Dalam menganalisis pesan ini, para peneliti akan menanyakan produksi pesan berbasiskan situasi tertentu (misalnya, bagaimana membuat nyaman seorang teman yang baru mengalami keretakan hubungan dengan kekasihnya, berbicara dengan orang tua hingga terlelap). Pesan-pesan ini kemudian dikodekan dengan menggunakan sistem pengkodean tertentu secara hierarkis yang kemudian dikembangkan untuk pesan dalam situasi spesifik. (Ardianto, 2007: 160) Asumsi dasar teori ini adalah hubungan yang terbentuk dalam sebuah kelompok sosial akan mempengaruhi jenis pembicaraan yang digunakan oleh kelompok itu. Prinsip dasar konstruktivisme adalah tindakan ditentukan oleh konstruk diri juga sekaligus konstruk lingkungan luar diri. Komunikasi pun demikian, ditentukan oleh diri di tengah pengaruh lingkungan luar. Pada titik ini dikemukakan teori Ron Herre mengenai perbedaan antara person dan self. Person adalah diri yang terlibat dalam lingkup publik, pada dirinya terdapat atribut sosial budaya masyarakatnya. Self adalah diri yang ditentukan oleh pemikiran khasnya di tengah pengaruh sosial budaya masyarakatnya (Ardianto, 2007: 160). Sementara itu Mead (2008:106) mendefinisikan ”diri” /self sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain. Bagi Mead, diri berkembang dari sebuah jenis pengambilan peran yang khusus- maksudya membayangkan bagaimana kita dilihat orang lain. Dan Mead menyebut hal tersebut sebagai cermin diri atau kemampuan kita untuk melihat diri kita sendiri dalam pantulan dari pandangan orang lain. Pembagian konsep diri ini diperlukan untuk memahami konteks komunikasi interaksi. Konsep diri menurut West & lynn H. Turner (2008:101) seperangkat perspektif yang relatif stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri. Prinsip konstruksivisme menyatakan bahwa situasi emosi atau alasan merupakan konstruksi dari situasi yang mempengaruhi individu. Misalnya emosi bukanlah reaksi yang muncul begitu saja. Emosi dimaknai dan dikemukakan sesuai dengan aturan yang sudah dipelajari dalam interaksi sosial dengan orang lain. Faktor lain yang mempengaruhi proses komunikasi berbasis diri adalah konsep tentang tujuan. Setiap individu dalam interaksinya selalu berusaha untuk memanajemen tujuan. Tujuan itu bisa bersifat instrumental (seperti mengajak atau memberitahukan seseorang) dan relasional (mendukung penampilan seseorang, menunjukkan pesona diri). 3.4. Model Logika Disain Pesan (B.J.O’Keefe) Desain pesan didasarkan pada kecenderungan seseorang dalam memanajemen tujuannya untuk kepentingan sampainya tujuan melalui pesan yang dipilihnya. B.J. O’Keefe dan Delia menyatakan bahwa pesan berbasis diri lebih kompleks dalam tindakannya karena mereka menentukan tujuan yang beragam. O’Keefe menggunakan term kompleksitas tindakan untuk merujuk pada bagaimana kebutuhan yang kompleks ini diatur dalam suatu interaksi. Logika Desain Pesan menyatakan bahwa setiap orang mempunyai alur pikiran berbeda yang digunakan dalam mengurus tujuan-tujuan yang saling bertentangan. O’Keefe menyimpulkan, variasi strategi manajemen tujuan yang diamati merupakan hasil dari variasi dalam sebuah sistem prinsip yang digunakan untuk mendasari makna komunikatif, yang berbeda dalam definisi komunikasi yang dibentuk dan diusahakan seseorang. Barbara O’Keefe menunjukkan tiga logika dasar desain pesan, yaitu ekspresif, konvensional, dan retoris. Logika ekspresif memperlakukan komunikasi sebagai suatu model ekspresi diri, sifat pesannya terbuka dan reaktif secara alami, sedikit memperhatikan keinginan orang lain. Logika ekspresif misalnya bisa ditemukan pada saat kita sedang marah. Logika konvensional memandang komunikasi sebagai permainan yang dilakukan secara teratur. Komunikasi dilakukan sebagai proses ekspresi berdasarkan aturan dan norma yang diterima bersama, maka komuikasi berlangsung sopan dan tertib. Logika retoris memandang komunkasi sebagai suatu cara mengubah aturan melalui negosiasi. Pesan dirancang cenderung fleksibel, penuh wawasan dan berpusat pada orang. (Ardianto & Bambang Q-Anees, 2007 : 164) 3 Logika Desain Pesan Barbara J. O’keefe Logika Desain ekspresif Logika Desain Konvensional Logika Desain Retoris Premis Dasar Bahasa merupakan media untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan Komunikasi adalah permainan yang dilakoni secara kooperatif oleh aturan sosial Komunikasi adalah kreasi negosiasi situasi dan diri sosial Fungsi utama pesan Ekspresi diri Pengendalian respon keinginan Negosiasi konsensus Sosial Hubungan antara pesan/konteks Perhatian yang kecil terhadap konteks Tindakan dan makna yng ditentukan oleh konteks Proses komunikasi menciptakan konteks Metode penanganan masalah Editing Bentuk-bentuk kesopanan Redefinisi konteks Evaluasi komunikasi Penjelasan ekspresif, terbuka dan jujur, pensinyalan yang tak terintangi Aprosiasi (ketepatan), kontrol, sumber daya, kooperatifitas Fleksibilitas, sofistikasi simbolik, kedalaman interpretasi Sumber : Miller, (2005 : 110) Dari bagan ini dapat dikemukakan bahwa : 1) logika desain ekspresif merefleksikan pandangan bahwa komunikasi adalah keterusterangan proses pengkodean pikiran dan perasaan. Logika pesan ekspresif bersifat literal dan langsung. 2) logika desain konvensional merefleksikan pandangan bahwa interaksi adalah permainan kooperatif yang dimainkan berdasarkan aturan, kesepakatan, dan prosedur-prosedur tertentu. Tujuan-tujuan yang bertentangan dalam situasi tertentu kadang dibagi dalam logika konvensional namun secara khusus melalui tambahan-tambahan dalam interaksi atau melewati bentuk-bentuk jebakan kesopanan seperti ”tolong, silahkan (please)”. 3) logika desain retoris merefleksikan pandangan bahwa komunikasi mengabdi pada struktur dan membentuk realitas. Dengan demikian, pelaku interaksi retoris menggunakan komunikasi untuk menetapkan situasi dalam cara yang akan memfasilitasi pertemuan beragam instrumen dan tujuan yang dihadapi. (Ardianto & Bambang Q-Anees, 2007:165) 3.5. Plain And Goals Theory Yang terakhir dari pengembangan teori produksi pesan ini adalah mempertimbangkan perencanaan dan tujuan. teori ini memberikan kerangka pemahaman tentang struktur kognitif dan bagaimana mereka mempengaruhi struktur verbal dan perilaku nonverbal. Menurut Berger (1995) dalam Miller (2005:116) konsepsi mengenai ”tujuan dan rencana” sering dilakukan untuk menjelaskan bagaimana memahami perilaku orang lain dan tindakan simbolisnya dalam teks naratif. Dalam hal ini terdapat tiga aspek tentang konsep tujuan terkait area kerja teori ini, yaitu : pertama, individu akan mempunyai beraneka ragam tujuan dalam berbagai interaksi. Dalam hal ini Dillard dkk (1990) memberikan pertimbangan beberapa tujuan dengan membedakannya antara tujuan primer dan tujuan sekunder. Tujuan Pimer ditetapkan pada situasi yang komunikatif untuk menyempurnakan interaksi. Contoh : seseorang yang mungkin mempunyai tujuan untuk mengubah sikap, menghibur, mendapatkan kepatuhan. Tujuan primer ini memberikan dorongan/ motivasi dalam berinteraksi. Sebaliknya tujuan sekunder sering menyediakan kekuatan pada tujuan primer dan biasanya bersangkutan dengan isu terkait. Yang kedua, tujuan meliputi tujuan yang belum jelas yang mempengaruhi interaksi. Dan yang terakhir , menurut Wilson (1990,1995) menyangkut cara dimana tujuan itu dibentuk dan diaktifkan dalam sistem kognitif. Theori perencanaan Bergers Teori ini memberikan penjelasan tentang bagaimana rencana dibuat dan dirumuskan. Teori perencanaan dalam bidang komunikasi dibuat oleh Charles Berger untuk menjelaskan proses individu melakukan perencanaan dalam prilaku komunikasi mereka ( Littlejohn, 2008:126) Perencanaan adalah proses berfikir atas rencana aksi. Karena komunikasi sangat penting untuk mencapai tujuan. Teori yang berangkat dari psikologi sosial ini juga dapat menjelaskan tentang proses-proses yang berlangsung dalam diri manusia dalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia dalam proses menghasilkan pesan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses menggunakan simbol. Demikian pula dalam proses memahami pesan yang diterima, manusia juga menggunakan proses psikologis seperti berfikir, memahami, menggunakan ingatan jangka pendek dan panjang hingga membuat suatu pemaknaan. Pendekatan psikologi sosial memberi perhatian terhadap aspek diri manusia. Proses komunikasi manusia merupakan proses yang berlangsung dalam diri manusia. C. IMPLIKASI TEORI-TEORI PRODUKSI PESAN TERHADAP ILMU KOMUNIKASI Implikasi teori produksi pesan -logika desain pesan (B.J. O’keefe)- dapat ditinjau pada teori manajemen makna terkoordinasi (berdasarkan penelitian W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen). Teori ini menyatakan bahwa individu membuat interpretasi berdasarkan aturan-aturan sosialnya. Individu dalam situasi sosial pertama-tama didorong oleh keinginan untuk memahami apa yang sedang terjadi dan menerapkan aturan-aturan untuk mengetahui segala sesuatu. Pada tahap lanjutan individu bertindak atas dasar pemahaman mereka, dengan menggunakan aturan-aturan untuk memutuskan jenis tindakan yang sesuai. Pada titik inilah desain pesan dioperasikan oleh individu dalam tindak komunikasinya, desain pesan dilakukan agar tindakan dan pernyataan dapat menciptakan komunikasi yang interaktif. (Ardianto dan Bambang Q. Anees, 2007:166) E. KRITIK TERHADAP TEORI-TEORI PRODUKSI PESAN Kritik kami pada teori-teori ini adalah dimana ruang lingkup dari teori-teori ini hanya berfokus pada sisi psikologis dan sifat individual serta pendekatannya yang hanya pada komunikasi interpersonal. Padahal, unsur pendefinisian komunikasi terjadi di antara manusia sehingga produksi pesan tidak bisa dijelaskan semata-mata dari perspektif pikiran individual serta harus melihat juga mengenai kognisi di luar individu. Selain itu, menurut kami, proses produksi suatu pesan tidak hanya melihat individu sebagai ”person” dalam komunikasi, tetapi juga individu sebagai ”team” dalam proses produksi pesan dalam komunikasi yang menggunakan media massa (komunikasi massa) dimana komunikator dalam komunikasi massa biasanya adalah lembaga/institusi yang terdiri dari beberapa individu yang menyatu dalam sebuah team. F. PENUTUP Komunikasi adalah proses yang berpusat pada pesan bersandar pada informasi. Teori yang dibahas dalam makalah ini berpusat pada individual. Kebanyakan dari teori ini menyatakan sifat sosial komunikasi, tetapi tidak menggunakan penjelasan sosial, melainkan hanya melihat produksi pesan sebagai persoalan psikologis, memfokuskan pada sifat-sifat, keadaan –keadaan, dan proses-proses individual. Akhirnya, kami sebagai penulis menyadari sekali akan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Makalah ini kami sajikan untuk didiskusikan sehingga dapat memberikan masukan-masukan maupun kritikan yang berarti sehingga kami dapat menyempurnakannya dikemudian hari.

teori-teori produksi pesan

TEORI-TEORI PRODUKSI PESAN

A. PENDAHULUAN
Dalam proses komunikasi, pesan merupakan sekumpulan lambang komunikasi yang memiliki makna dan kegunaan dalam menyampaikan suatu ide gagasan kepada manusia lain. Pesan dirancang oleh komunikator untuk disampaikan kepada komunikan melalui saluran komunikasi tertentu. Penyandian pesan (encoding) akan disesuaikan dengan karakteristik saluran pesan yang dipilih untuk menyampaikan pesan kepada komunikan. Karena saluran komunikasi menentukan bagaimana suatu pesan dikemas. Pesan yang sampai kepada komunikan akan diterima melalui proses pemaknaan pesan (decoding).
Menurut Ritonga, (2005:20) pesan yang disampaikan kepada komunikan pada dasarnya merupakan refleksi dari persepsi atau perilaku komunikan sendiri. Komunikator dalam merancang pesan berorientasi (berpedoman) pada komunikan agar ditafsirkan sama dan diharapkan dapat mempengaruhi komunikan untuk bersikap dan berperilaku sesuai yang diharapkan komunikator.
Pesan menurut Vardiansyah, (2004:60) adalah segala sesuatu yang disampaikan komunikator pada komunikan untuk mewujudkan motif komunikasinya. Pesan pada dasarnya bersifat abstrak. untuk membuatnya konkret manusia dengan akal budinya menciptakan lambang komunikasi: mimik, gerak gerik, suara, bahasa lisan dan bahasa tulisan. Karena itu, lambang komunikasi adalah bentuk atau wujud konkret dari pesan.
Lambang komunikasi diartikan sebagai kode atau simbol, atau tanda yang digunakan komunikator untuk mengubah pesan yang abstrak menjadi konkret. Komunikan tidak akan tahu apa yang kita pikirkan dan rasakan sampai kita mewujudkan pesan dalam salah satu bentuk lambang komunikasi; mimik, gerak-gerik, suara, bahasa lisan, dan atau bahasa tulisan. (Vardiansyah, 2004:61) Sebuah pesan tidak lahir begitu saja, tapi melewati suatu proses tertentu yang -disadari atau tidak disadari oleh pembuatnya—memengaruhi corak pesan tersebut.
Pada pembahasan kali ini kami membahas mengenai teori-teori produksi pesan yang dibahas oleh Stephen W Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication dan Kathrine Miller dalam bukunya ”Communication Theories : Perspectives, Processes, and Contexts” edisi kedua pada bab 7, serta referensi-referensi terkait lainnya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai teori-teori produksi pesan dengan menggunakan tiga tipe penjelasan psikologis: penjelasan sifat, penjelasan keadaan, dan penjelasan proses yang didalamnya terdapat teori-teori berikut ini :
1. Teori Akomodasi
2. Teori Konstruktivis
3. Teori Message Design Logis
4. Teori Action Assembly (Kumpulan Aksi)
5. Teori Perencanaan Dan Tujuan (Plain And Goal)

B. PEMBAHASAN
Komunikasi adalah proses yang berpusat pada pesan bersandar pada informasi. Teori-teori yang dikemukakan pada pembahasan kali ini berpusat pada individual. Teori-teori produksi pesan oleh Littlejohn (2002 : 176) menggunakan tiga tipe penjelasan psikologis: penjelasan sifat, penjelasan keadaan, dan penjelasan proses. Yang secara jelas akan diuraikan berikut ini :
1. Penjelasan sifat
Penjelasan sifat berfokus pada karakteristik individual yang relatif statis dan cara karakteristik ini berasosiasi dengan sifat-sifat dan variabel lain-hubungan antara tipe personalitas tertentu dan jenis-jenis pesan tertentu. Teori-teori ini memprediksikan bahwa ketika anda memiliki sifat personalitas tertentu, anda akan cenderung berkomunikasi dengan cara-cara tertentu. Contohnya, orang dengan personalitas argumentatif menyukai berdebat. dalam bagian ini littlejohn (2005: 177) berkonsentrasi pada beberapa hal yang menonjol.
Ketakutan berkomunikasi
Ketakutan akan komunikasi adalah problema praktis serius bagi banyak orang. Ketakutan komunikasi (Communication Appherension/CA) dapat merupakan sifat atau keadaan. Dalam hal ini terdapat tiga jenis CA. Pertama, Traitlike CA adalah tendensi yang abadi menjadi prihatin mengenai komunikasi dalam berbagai setting, dan individu yang menderita ketakutan jenis ini mungkin menghindari seluruh jenis komunikasi oral. Kedua, generalized-context CA, ketakutan seseorang terhadap beberapa jenis komunikasi tertentu seperti berbicara di depan publik, namun mungkin menampilkan sedikit ketakutan pada jenis komunikasi lainnya. Ketiga, Person-Group CA, takut akan komunikasi dengan orang spesifik atau kelompok tertentu seperti gelandangan.
Sensitivitas retoris
Sensitivitas retoris merupakan -tendensi untuk mengadaptasikan pesan ke audiens- ditemukan oleh Roderick Hart dan kolega-koleganya. Para ahli teori ini menemukan bahwa komunikasi efektif muncul dari sensitivitas dan perduli dalam menyesuaikan apa yang anda katakan terhadap pendengar.
Sensitif retoris mewujudkan kepentingannya sendiri, kepentingan orang lain, dan sikap situasional. Orang-orang yang sensitif retoris menerima kompleksitas personal, memahami bahwa individu merupakan komposit dari banyak diri. Orang harus berhubungan dengan ”diri” yang beroperasi dalam situasi yang ada. Individu adaptis retoris menghindari kekakuan dalam berkomunikasi dengan yang lain, dan mereka berupaya menyeimbangkan kepentingan sendiri denngan kepentingan orang lain. Orang ini mencoba menyesuaikan apa yang mereka katakan pada level, mood, dan keyakinan orang lain.
Idea usulan sensitifitas retoris adalah individu memiliki sifat atau gaya yang menonjol saat mereka berkomunikasi. Gaya komunikasi, diteliti oleh Robert Norton dan kolega-koleganya, berdasarkan pada ide bahwa kita berkomunikasi pada dua level. Kita bukan hanya memberi informasi, namun kita juga menyajikan bahwa inormasi dalam bentuk tertentu yang menyampaikan pada orang lain bagaimana memahami dan menanggapi suatu pesan.

2, Penjelasan situasi
Keadaan pikiran dan perilaku manusia sangat banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, peristiwa persepsi terhadap situasi. Dalam bagian ini terdapat dua teori; teori umum dan teori khusus.
2.a. suatu pendekatan umum
Michael Jody, Margaret Mclaughilin, dan koleganya telah melakukan riset yang sungguh-sungguh untuk mengetahui faktor-faktor situasional umum yang mempengaruhi pilihan pesan.
Suatu situasi komunkasi merupakan peristiwa komunikasi yang menyeluruh termasuk partisipan (siapa), setting (dimana), dan aktivitas yang dilakukan (apa). Individu-individu menggunakan pengetahuan mereka mengenai situasi dengan sejumlah cara, salah satuya adalah mengevaluasi orang lain.
Orang juga menggunakan situasional untuk menetapkan tujuan-tujuan komunikasi mereka. Pengetahuan situasional membantu kita menentukan mengapa kita ada di sana dan apa yang ingin kita selesaikan. Jadi jelaslah, bahwa cara orang berkomunikasi tergantung pada setidaknya tujuan-tujuan yang didefinisikan dalam situasi. Dan perilaku seseorang sering dipengaruhi oleh pengetahuan situasional.
Akhirnya, dan yang mungkin paling penting orang menggunakan pengetahuannya terhadap situasi untuk memandu perilakunya. Bagaimana saya mencoba untuk membujuk orang lain untuk berubah? Bagaimana saya akan melakukannya? Bagaimana saya bicara? Akankah saya tinggal diam? Akankah saya menjadi jenaka dan luwes atau keras dan formal? Anda akan menjawab definisi ini berdasarkan definisi anda terhadap situasi itu.
2.b. suatu pendekatan khusus
Janet Beavin Bavelas dan koleganya telah membatasi penelitiannya khususnya pada komunikasi equivokal atau pesan-pesan dengan sengaja tidak jelas. Pesan-pesan tersebut tidak langsung atau berterus terang dan pendengar harus menduga artinya daripada menangkapnya secara langsung. Kebanyakan orang menggunakan komunikasi equivokal dari waktu ke waktu untuk melindungi perasaan-perasaan orang lain dan lari dari akibat yang tidak menyenangkan dari kejelasan. Contoh, apa yang akan anda katakan bila seorang teman bertanya tentang pendapat anda mengenai pakaiannya yang seram? Anda berbohong dengan sengaja : ”buatannya menarik, saya tak pernah melihatnya sebelumnya”. Menurut ahli teori ini, seluruh komunikasi terdiri dari empat bagian proses yang sederhana :(1) saya, (2) mengatakan sesuatu, (3) kepada anda, (4) dalam situasi ini.
kerja ini menunjukkan bahwa situasi dapat memiliki efek yang kuat pada perilaku komunikasi, terlepas dari tendensi individual.
3. Penjelasan Proses
Teori proses berupaya menjelaskan mekanisme membuat pesan komunikasi. Dalam hal ini Litllejohn ( 2005: 169) mengemukakan beberapa teori yang drumuskan oleh beberapa ahli komunikasi diantaranya:
3.1 Teori Akomodasi
Teori ini dikemukakan oleh Howard Giles dan koleganya, teori ini berkaitan dengan penyesuaian interpersonal dalam interaksi komunikasi. Hal ini didasarkan pada observasi bahwa komunikator sering kelihatan menirukan perilaku satu sama lain.
Teori akomodasi komunikasi berawal pada tahun 1973, ketika Giles pertama kali memperkenalkan pemikiran mengenai model ”mobilitas aksen” Yang didasarkan pada berbagai aksen yang dapat didengar dalam situaisi wawancara. Teori akomodasi didapatkan dari sebuah penelitian yang awalnya dilakukan dalam bidang ilmu lain, dalam hal ini psikologi sosial. (West dan Lynn Turner, 2007: 217)
Akomodasi didefinisikan sebagai kemampuan menyesuaikan, memodifikasi atau mengatur perilaku seseorang dalam responnya terhadap orang lain. Akomodasi biasanya dilakukan secara tidak sadar. Kita cenderung memiliki naskah kognitif internal yang kita gunakan ketika kita berbicara dengan orang lain. (West dan Lynn Turner, 2007: 217)
Teori akomodasi menyatakan bahwa dalam percakapan orang memiliki pilihan. Mereka mungkin menciptakan komunitas percakapan yang melibatkan penggunaan bahasa atau sistem nonverbal yang sama, mereka mungkin akan membedakan diri mereka dari orang lain, dan mereka akan berusaha terlalu keras untuk beradaptasi. Pilihan-pilihan ini akan diberi label konvergensi, divergensi, dan akomodasi berlebihan.
Proses pertama yang dhubungkan dengan teori akomodasi adalah konvergensi. Jesse Delia, Nikolas Coupland, dan Justin Coupland dalam West dan Lynn Turner (2007:222) mendefinisikan konvergensi sebagai ”strategi dimana individu beradaptasi terhadap perilaku komunikatif satu sama lain”. Orang akan beradaptasi terhadap kecepatan bicara, jeda, senyuman, tatapan mata, perilaku verbal dan nonverbal lainnya. Ketika orang melakukan konvergensi, mereka bergantung pada persepsi mereka mengenai tuturan atau perilaku orang lainnya. Selain persepsi mengenai komunikasi orang lain, konvergensi juga didasarkan pada ketertarikan. Biasanya, ketika para komunikator saling tertarik, mereka akan melakukan konvergensi dalam percakapan.
Proses kedua yang dihubungkan dengan teori akomodasi adalah divergensi yaitu strategi yang digunakan untuk menonjolkan perbedaan verbal dan nonverbal di antara para komunikator. Divergensi terjadi ketika tidak terdapat usaha untuk menunjukkan persamaan antara para pembicara.
Terdapat beberapa alasan mengapa orang melakukan divergensi, pertama untuk mempertahankan identitas sosial. Contoh, individu mungkin tidak ingin melakukan konvergensi dalam rangka mempertahankan warisan budaya mereka. Contoh, ketika kita sedang bepergian ke Paris, kita tidak mungkin mengharapkan orang Prancis agar melakukan konvergensi terhadap bahasa kita. Alasan kedua mengapa orang lain melakukan divergensi adalah berkaitan dengan kekuasaan dan perbedaan peranan dalam percakapan. Divergensi seringkali terjadi dalam percakapan ketika terdapat perbedaan peranan yang jelas dalam percakapan (dokter-pasien, orangtua-anak, pewawancara-terwawancara, dan seterusnya. Terakhir, divergensi cenderung terjadi karena lawan bicara dalam percakapan dipandang sebagai anggota dari kelompok yang tidak diinginkan, dianggap memiliki sikap-sikap yang tidak menyenangkan, atau menunjukkan penampilan yang jelek.
Proses ketiga yang dapat dihubungkan dengan teori akomodasi adalah Akomodasi Berlebihan : Miskomunikasi dengan tujuan. Jane Zuengler (1991) dan West dan Lynn Turner (2007: 227) mengamati bahwa akomodasi berlebihan adalah ”label yang diberikan kepada pembicara yang dianggap pendengar terlalu berlebihan.” istilah ini diberikan kepada orang yang walaupun bertindak berdasarkan pada niat baik, malah dianggap merendahkan.

3.2. Action Assembly Theory / Teori Kumpulan Aksi (John Greene : 1984)
John Greene dalam teorinya Action Assembly Theory menjelaskan tentang cara seseorang mengorganisasikan pengetahuan dengan pikiran dan menggunakannya untuk membentuk pesan. Teori ini menjelaskan struktur dan proses yang tersebut dalam aksi komunikatif. Teori ini menguji cara pengetahuan diurutkan dan digunakan dalam komunikasi.
Greene menyebut dua komponen pengetahuan yakni pengetahuan isi (content knowledge) dan pengetahuan prosedural (procedural knowledge). You know about things, and you know how to do things (Terjemahan: Anda tahu tentang sesuatu, dan Anda tahu bagaimana melakukan sesuatu itu).
Pengetahuan procedural terdiri dari suatu kesadaran akan konsekuensi dari berbagai aksi dalam situasi-situasi yang berbeda. Seluruh pengetahuan procedural kita terdiri dari sejumlah besar “catatan prosedural”, masing-masing disusun dari pengetahuan mengenai suatu aksi, hasilnya, dan situasi dimana ia sesuai. Karena orang ingat dari hasil aksi, mereka dapat berperilaku dengan efektif pada kesempatan mendatang.
Sebagai contoh, bagaimana kita tahu cara-cara memeperkenalkan diri kepada orang lain pada suatu pesta? Dari pengalaman dan pegamatan terhadap orang lain yang melakukan hal itu, kita memiliki pengetahuan berbagai macam cara.
Dalam Action Assembly Theory, procedural knowledge menjadi pusat perhatian utama. Greene menggambarkan cara kerja procedural knowledge seperti titik-titik (node) yang saling terhubung satu sama lain bagaikan website di internet. Node pengetahuan tersebut terutama yang berkaitan dengan perilaku, konsekuensi dan situasi.

Ket. Gambar: Cara kerja procedural knowledge dengan node pengetahuan yang saling terhubung membentuk jejaring yang akhirnya menghasilkan sebuah pesan
Sumber: http//bambangsukmawijaya.files.wordpress.com/2009/09/john-greene-theory/.jpg

Greene memberi contoh ketika kita berjumpa seseorang, biasanya kita akan tersenyum dan mengucapkan, “Hai, apa kabar?” dan kemudian orang tersebut akan membalasnya dengan berkata, “Baik, bagaimana kabar Anda juga?”. Kita menyimpan ini dalam memori sebagai suatu pengetahuan yang saling berhubungan antara situasi menyapa seseorang, tindakan tersenyum, menggunakan kata-kata tertentu, dan mendapatkan hasil berupa balasan sapaan dari orang lain.
Pada kasus yang lebih kompleks, hal-hal yang saling berkaitan semacam itu, di mana pada prosedur tertentu terdapat hubungan yang paling sering digunakan atau yang terakhir digunakan –sehingga menjadi semakin kuat, maka node pengetahuan itu akan membentuk modul-modul atau pola. Greene menyebut modul-modu tersebut sebagai procedural record, yaitu sekumpulan hubungan yang terbentuk oleh node dalam kegiatan jaringan yang cenderung menguat.
Lebih lanjut, Greene juga menjelaskan bahwa jika hubungan pengetahuan tersebut menjelma menjadi beberapa himpunan kegiatan dalam urutan tindakan tertentu yang secara kuat saling berkelompok dan sering digunakan, maka akan menjadi tindakan yang terprogram. Greene mengistilahkan tindakan terprogram ini sebagai “unitilized assemblies”. Ritual memberikan salam seperti yang dipaparkan di atas merupakan contoh yang bagus mengenai “unitilized assemblies”.
Menurut Greene, tidak ada tindakan tunggal yang dapat berdiri sendiri. Setiap tindakan memengaruhi tindakan yang lain dengan suatu cara tertentu. Untuk memperkenalkan diri misalnya, kita harus menggunakan berbagai tindakan mulai dari tekanan suara dengan kata-kata dan gerakan. Untuk menuliskan paragraf, kita harus menggabungkan berbagai aksi dari pengetahuan yang terkordinasi dalam bahasa untuk menulis atau mengetik.
Tindakan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam jaringan pengetahuan. Setiap bagian pengetahuan merepresentasikan sesuatu untuk melakukannya. Tujuan yang lebih tinggi (seperti melakukan perkenalan) dan yang lebih rendah (seperti tersenyum) digabungkan dalam sebuah hasil representasi yang mengantarkan kita ke suatu tindakan komunikasi. (Littlejohn, 2005: 193-195).

3.3. Teori Konstruktivist
Teori konstruktivis atau konstruktivisme (Miller, 2005 : 105) adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Delia dan rekan–rekan sejawatnya. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Konstruktivist melakukan pendekatan pemahaman produksi pesan dimulai dari system kognitif individu.
George Keely dalam Ardianto (2007 : 158) menegaskan cara pandang pemahaman pribadi seseorang dilakukan dengan pengelompokan peristiwa menurut persamaan dan perbedaannya. Perbedaan ini menjadi dasar penilaian ihwal sistem kognitif individual yang besifat pribadi dan karenanya berbeda dengan konstruksi sosial. Aliran ini meyakini bahwa sistem kognitif individu berkembang kompleks. Individu yang cerdas secara kognitif dapat membuat banyak perbedaan dalam satu situasi dibanding orang yang secara kognitif lemah. Inilah yang disebut differensiasi kognitif. Differensiasi ini mempengaruhi bagaimana pesan menjadi kompleks.
Delia dan koleganya kemudian menegaskan hubungan antara kompleksitas kognitif dengan tujuan dari pesan. Pesan sederhana hanya memiliki satu tujuan sementara pesan kompleks memiliki banyak tujuan. Dalam komunikasi antarpersona pesan-pesan sederhana berupaya mencapai keinginan satu pihak saja tanpa mempertimbangkan keinginan orang lain. Sementara pesan kompleks dirancang memenuhi kebutuhan orang lain. Pada pesan kompleks inilah komunikasi antarpersona dapat tercipta. Konstruksionisme dengan demikian dapat dikategorikan komunikasi yang berpusat pada orang (komunikasi berbasis diri) dan differensiasi kognitif menunjukkan adanya desain pesan.

Komunikasi berbasis ”diri”
Selain kompleksitas kognitif, komponen utama yang lain dari teori constructivist melibatkan pesan yang dihasilkan. Sekali lagi, beberapa teori dasar constructivis propositions menginformasikan tentang fitur komunikasi. Teori Bernstein (1975) menyatakan bahwa individu dalam melakukan sesuatu dikonstruksi oleh orientasi kehidupannya sendiri dan oleh orientasi posisi subjek itu dalam hidupnya. Individu yang berbasis subjek akan menggunakan elaborasi kode yang menghargai kecenderungan, perasaan, dari sudut pandang orang lain. Sebaliknya, individu berbasis posisi akan menggunakan kode-kode terbatas yang mengikuti aturan dan norma-norma situasi kutural tertentu. (MiIler, 2005: 107)
Komunikasi berbasis diri adalah model komunikasi yang memeriksa proses lahirnya pesan berdasarkan orientasi diri. Menurut teori kalangan konstruktivits, pesan- pesan berbasis diri merefleksikan kewaspadaan dan adaptasi subjektif, afektif serta aspek relasional dalam konteks komunikasi. Sebuah pesan berbasis ”diri” merupakan suatu gagasan yang menyokong kebutuhan pendengarnya, perhatian atas situasi yang mungkin dan mengarah pada tujuan yang beragam.
Selanjutnya kaum konstruktivis merumuskan tingkatan bagaimana sebuah pesan bisa berbasis ”diri” melalui pengkodean respons buka-tutup. Dalam menganalisis pesan ini, para peneliti akan menanyakan produksi pesan berbasiskan situasi tertentu (misalnya, bagaimana membuat nyaman seorang teman yang baru mengalami keretakan hubungan dengan kekasihnya, berbicara dengan orang tua hingga terlelap). Pesan-pesan ini kemudian dikodekan dengan menggunakan sistem pengkodean tertentu secara hierarkis yang kemudian dikembangkan untuk pesan dalam situasi spesifik. (Ardianto, 2007: 160)
Asumsi dasar teori ini adalah hubungan yang terbentuk dalam sebuah kelompok sosial akan mempengaruhi jenis pembicaraan yang digunakan oleh kelompok itu. Prinsip dasar konstruktivisme adalah tindakan ditentukan oleh konstruk diri juga sekaligus konstruk lingkungan luar diri. Komunikasi pun demikian, ditentukan oleh diri di tengah pengaruh lingkungan luar. Pada titik ini dikemukakan teori Ron Herre mengenai perbedaan antara person dan self. Person adalah diri yang terlibat dalam lingkup publik, pada dirinya terdapat atribut sosial budaya masyarakatnya. Self adalah diri yang ditentukan oleh pemikiran khasnya di tengah pengaruh sosial budaya masyarakatnya (Ardianto, 2007: 160). Sementara itu Mead (2008:106) mendefinisikan ”diri” /self sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain. Bagi Mead, diri berkembang dari sebuah jenis pengambilan peran yang khusus- maksudya membayangkan bagaimana kita dilihat orang lain. Dan Mead menyebut hal tersebut sebagai cermin diri atau kemampuan kita untuk melihat diri kita sendiri dalam pantulan dari pandangan orang lain.
Pembagian konsep diri ini diperlukan untuk memahami konteks komunikasi interaksi. Konsep diri menurut West & lynn H. Turner (2008:101) seperangkat perspektif yang relatif stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri.
Prinsip konstruksivisme menyatakan bahwa situasi emosi atau alasan merupakan konstruksi dari situasi yang mempengaruhi individu. Misalnya emosi bukanlah reaksi yang muncul begitu saja. Emosi dimaknai dan dikemukakan sesuai dengan aturan yang sudah dipelajari dalam interaksi sosial dengan orang lain. Faktor lain yang mempengaruhi proses komunikasi berbasis diri adalah konsep tentang tujuan. Setiap individu dalam interaksinya selalu berusaha untuk memanajemen tujuan. Tujuan itu bisa bersifat instrumental (seperti mengajak atau memberitahukan seseorang) dan relasional (mendukung penampilan seseorang, menunjukkan pesona diri).
3.4. Model Logika Disain Pesan (B.J.O’Keefe)
Desain pesan didasarkan pada kecenderungan seseorang dalam memanajemen tujuannya untuk kepentingan sampainya tujuan melalui pesan yang dipilihnya. B.J. O’Keefe dan Delia menyatakan bahwa pesan berbasis diri lebih kompleks dalam tindakannya karena mereka menentukan tujuan yang beragam. O’Keefe menggunakan term kompleksitas tindakan untuk merujuk pada bagaimana kebutuhan yang kompleks ini diatur dalam suatu interaksi. Logika Desain Pesan menyatakan bahwa setiap orang mempunyai alur pikiran berbeda yang digunakan dalam mengurus tujuan-tujuan yang saling bertentangan. O’Keefe menyimpulkan, variasi strategi manajemen tujuan yang diamati merupakan hasil dari variasi dalam sebuah sistem prinsip yang digunakan untuk mendasari makna komunikatif, yang berbeda dalam definisi komunikasi yang dibentuk dan diusahakan seseorang.
Barbara O’Keefe menunjukkan tiga logika dasar desain pesan, yaitu ekspresif, konvensional, dan retoris. Logika ekspresif memperlakukan komunikasi sebagai suatu model ekspresi diri, sifat pesannya terbuka dan reaktif secara alami, sedikit memperhatikan keinginan orang lain. Logika ekspresif misalnya bisa ditemukan pada saat kita sedang marah. Logika konvensional memandang komunikasi sebagai permainan yang dilakukan secara teratur. Komunikasi dilakukan sebagai proses ekspresi berdasarkan aturan dan norma yang diterima bersama, maka komuikasi berlangsung sopan dan tertib. Logika retoris memandang komunkasi sebagai suatu cara mengubah aturan melalui negosiasi. Pesan dirancang cenderung fleksibel, penuh wawasan dan berpusat pada orang. (Ardianto & Bambang Q-Anees, 2007 : 164)

3 Logika Desain Pesan Barbara J. O’keefe

Logika Desain
ekspresif Logika Desain Konvensional Logika Desain
Retoris

Premis Dasar
Bahasa merupakan media
untuk mengekspresikan
pikiran dan perasaan

Komunikasi adalah permainan yang
dilakoni secara kooperatif
oleh aturan sosial

Komunikasi adalah
kreasi negosiasi situasi dan diri sosial

Fungsi utama
pesan

Ekspresi diri
Pengendalian respon keinginan
Negosiasi konsensus
Sosial

Hubungan antara pesan/konteks

Perhatian yang
kecil terhadap konteks

Tindakan dan
makna yng ditentukan
oleh konteks
Proses komunikasi
menciptakan konteks

Metode penanganan
masalah

Editing
Bentuk-bentuk kesopanan
Redefinisi konteks

Evaluasi komunikasi

Penjelasan ekspresif,
terbuka dan jujur, pensinyalan
yang tak terintangi

Aprosiasi (ketepatan), kontrol,
sumber daya, kooperatifitas
Fleksibilitas, sofistikasi
simbolik, kedalaman interpretasi

Sumber : Miller, (2005 : 110)

Dari bagan ini dapat dikemukakan bahwa :
1) logika desain ekspresif merefleksikan pandangan bahwa komunikasi adalah keterusterangan proses pengkodean pikiran dan perasaan. Logika pesan ekspresif bersifat literal dan langsung.
2) logika desain konvensional merefleksikan pandangan bahwa interaksi adalah permainan kooperatif yang dimainkan berdasarkan aturan, kesepakatan, dan prosedur-prosedur tertentu. Tujuan-tujuan yang bertentangan dalam situasi tertentu kadang dibagi dalam logika konvensional namun secara khusus melalui tambahan-tambahan dalam interaksi atau melewati bentuk-bentuk jebakan kesopanan seperti ”tolong, silahkan (please)”.
3) logika desain retoris merefleksikan pandangan bahwa komunikasi mengabdi pada struktur dan membentuk realitas. Dengan demikian, pelaku interaksi retoris menggunakan komunikasi untuk menetapkan situasi dalam cara yang akan memfasilitasi pertemuan beragam instrumen dan tujuan yang dihadapi. (Ardianto & Bambang Q-Anees, 2007:165)
3.5. Plain And Goals Theory
Yang terakhir dari pengembangan teori produksi pesan ini adalah mempertimbangkan perencanaan dan tujuan. teori ini memberikan kerangka pemahaman tentang struktur kognitif dan bagaimana mereka mempengaruhi struktur verbal dan perilaku nonverbal.
Menurut Berger (1995) dalam Miller (2005:116) konsepsi mengenai ”tujuan dan rencana” sering dilakukan untuk menjelaskan bagaimana memahami perilaku orang lain dan tindakan simbolisnya dalam teks naratif.
Dalam hal ini terdapat tiga aspek tentang konsep tujuan terkait area kerja teori ini, yaitu : pertama, individu akan mempunyai beraneka ragam tujuan dalam berbagai interaksi. Dalam hal ini Dillard dkk (1990) memberikan pertimbangan beberapa tujuan dengan membedakannya antara tujuan primer dan tujuan sekunder. Tujuan Pimer ditetapkan pada situasi yang komunikatif untuk menyempurnakan interaksi. Contoh : seseorang yang mungkin mempunyai tujuan untuk mengubah sikap, menghibur, mendapatkan kepatuhan. Tujuan primer ini memberikan dorongan/ motivasi dalam berinteraksi. Sebaliknya tujuan sekunder sering menyediakan kekuatan pada tujuan primer dan biasanya bersangkutan dengan isu terkait. Yang kedua, tujuan meliputi tujuan yang belum jelas yang mempengaruhi interaksi. Dan yang terakhir , menurut Wilson (1990,1995) menyangkut cara dimana tujuan itu dibentuk dan diaktifkan dalam sistem kognitif.
Theori perencanaan Bergers
Teori ini memberikan penjelasan tentang bagaimana rencana dibuat dan dirumuskan. Teori perencanaan dalam bidang komunikasi dibuat oleh Charles Berger untuk menjelaskan proses individu melakukan perencanaan dalam prilaku komunikasi mereka ( Littlejohn, 2008:126)
Perencanaan adalah proses berfikir atas rencana aksi. Karena komunikasi sangat penting untuk mencapai tujuan. Teori yang berangkat dari psikologi sosial ini juga dapat menjelaskan tentang proses-proses yang berlangsung dalam diri manusia dalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia dalam proses menghasilkan pesan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses menggunakan simbol. Demikian pula dalam proses memahami pesan yang diterima, manusia juga menggunakan proses psikologis seperti berfikir, memahami, menggunakan ingatan jangka pendek dan panjang hingga membuat suatu pemaknaan. Pendekatan psikologi sosial memberi perhatian terhadap aspek diri manusia. Proses komunikasi manusia merupakan proses yang berlangsung dalam diri manusia.

C. IMPLIKASI TEORI-TEORI PRODUKSI PESAN TERHADAP ILMU KOMUNIKASI
Implikasi teori produksi pesan -logika desain pesan (B.J. O’keefe)- dapat ditinjau pada teori manajemen makna terkoordinasi (berdasarkan penelitian W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen). Teori ini menyatakan bahwa individu membuat interpretasi berdasarkan aturan-aturan sosialnya. Individu dalam situasi sosial pertama-tama didorong oleh keinginan untuk memahami apa yang sedang terjadi dan menerapkan aturan-aturan untuk mengetahui segala sesuatu. Pada tahap lanjutan individu bertindak atas dasar pemahaman mereka, dengan menggunakan aturan-aturan untuk memutuskan jenis tindakan yang sesuai. Pada titik inilah desain pesan dioperasikan oleh individu dalam tindak komunikasinya, desain pesan dilakukan agar tindakan dan pernyataan dapat menciptakan komunikasi yang interaktif. (Ardianto dan Bambang Q. Anees, 2007:166)

E. KRITIK TERHADAP TEORI-TEORI PRODUKSI PESAN
Kritik kami pada teori-teori ini adalah dimana ruang lingkup dari teori-teori ini hanya berfokus pada sisi psikologis dan sifat individual serta pendekatannya yang hanya pada komunikasi interpersonal. Padahal, unsur pendefinisian komunikasi terjadi di antara manusia sehingga produksi pesan tidak bisa dijelaskan semata-mata dari perspektif pikiran individual serta harus melihat juga mengenai kognisi di luar individu. Selain itu, menurut kami, proses produksi suatu pesan tidak hanya melihat individu sebagai ”person” dalam komunikasi, tetapi juga individu sebagai ”team” dalam proses produksi pesan dalam komunikasi yang menggunakan media massa (komunikasi massa) dimana komunikator dalam komunikasi massa biasanya adalah lembaga/institusi yang terdiri dari beberapa individu yang menyatu dalam sebuah team.
F. PENUTUP
Komunikasi adalah proses yang berpusat pada pesan bersandar pada informasi. Teori yang dibahas dalam makalah ini berpusat pada individual. Kebanyakan dari teori ini menyatakan sifat sosial komunikasi, tetapi tidak menggunakan penjelasan sosial, melainkan hanya melihat produksi pesan sebagai persoalan psikologis, memfokuskan pada sifat-sifat, keadaan –keadaan, dan proses-proses individual.
Akhirnya, kami sebagai penulis menyadari sekali akan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Makalah ini kami sajikan untuk didiskusikan sehingga dapat memberikan masukan-masukan maupun kritikan yang berarti sehingga kami dapat menyempurnakannya dikemudian hari.

Implementasi CSR dalam pengembangan masyarakat

Sejalan dengan bergulirnya wacana implementasi tanggung jawab sosial perusahaan atau biasa disebut CSR, kegiatan kedermawanan perusahaan terus berkembang dalam kemasan philantrophy dan Community Development (pengembangan masyarakat). intinya kegiatan kedermawanan yang sebelumnya kental dengan pola kedermawanan ala Robin Hood makin berkembang ke arah pemberdayaan masyarakat semisal pengembangan kerja sama, memberikan keterampilan dan lain sebagainya.

implementasi CSR hendaknya kini harus lebih diarahkan pada kegiatan yang lebih berdayaguna bagi masyarakat, bukan terbatas hanya pada kegiatan yang bersifat memberi, tetapi harus lebih pada kegiatan edukasi dan praktek pendampingan swadaya masyarakat, sehingga dampak dari kegiatan tersebut lebih bertahan lama dan dapat terus berkembang.

CSR kini bukan sekedar donasi, CSR bukan sekedar  membagi, namun…CSR adalah tanggung jawab untuk memberdayakan masyarakat sekitar melalui berbagai cara. cara yang dimaksud adalah cara untuk mengembangkan potensi masyarakat sehingga dapat terus berkelanjutan. sebagai contoh adalah kegiatan pelatihan tekhnisi Handphone dan kewirausahaan yang dilakukan oleh PT. Telkom ( bukan promosi, aku ngambil kasus ini karena mahasiswaku riset tentang ini), apa yang dilakukan oleh PT Telkom adalah salah satu bentuk CSR dalam wacana pengembangan masyarakat. mulai dari pelatihan, pemberian modal hingga pendampingan usaha, kesemuanya adalah contoh yang baik untuk perencanaan program pengembangan masyarakat sebagai bentuk implementasi CSR.

CSR

         CSR ternyata belum memilki definisi yang tunggal. Namun, definisi CSR versi Indonesia, dari sisi etimologis CSR kerap diterjemahkan sebagai “Tanggung Jawab Sosial Perusahaan”. Dalam konteks lain, CSR kadang juga disebut sebagai “Tanggung Jawab Sosial korporasi” atau “Tanggung Jawab Sosial Dunia Usaha”. Kesadaran tentang pentingnya mempraktikan CSR ini menjadi tren global yang dilakukan perusahaan-perusahaan di Indonesia, Seiring dengan UUPT pasal 74 ayat 1 dimana perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang dan / atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan, maksudnya adalah mewajibkan perseroan yang menjalankan kegitan usahanya di bidang sumber daya alam atau perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam.

Menurut Lord Home dan Richard Watts (Amin,2008:22), ”CSR adalah komitmen berkelanjutan perusahaan untuk berprilaku secara etis dan berkontribusi kepada pengembangan ekonomi dengan tetap meningkatkan kualitas hidup dari para pekerja dan keluarga mereka, begitu juga halnya dengan masyarakat sekitar perusahaan dan masyarakat secara keseluruhan”.

World Business Council for substainable development, (Amin, 2008:23) mendefinisikan ”Corporat social responsibility is the continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society or larger.

(CSR adalah komitment dari bisnis / perusahaan untuk berprilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas).

1.   Konsep Triple Bottom Line

Istilah Triple Bottom Line dipopulerkan oleh John Elkington pada tahun 1997, melalui bukunya Elkington memberi pandangan bawha perusahaan yang ingin berkelanjutan, haruslah memperhatikan ”3P”. Selain mengejar keuntunga (profit), perusahaan juga mesti memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kebutuhan masyarakat (people) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet). Wibisono (2007:32)

Hubungan ini kemudian diilustrasikan dalam bentuk segi tiga sebagai berikut :

Gambar. 1

(Wibisono,2007:32)

Sosial

(People)

 

                                       Lingkungan                    Ekonomi

(Planet)                          (Profit)

 

 

      Triple – Bottom Line. Elkington (Amin,2008:316)

a.   Profit : Setiap perusahaan harus menguntungkan dan kompetitif.

b.   People : Dalam kegiatan bisnis, faktor manusia adalah faktor yang sangat penting.

c.   Planet : Bahwa kegiatan bisnis perusahaan harus berorientasi untuk menjaga kelestarian lingkungan, yang pada gilirannya akan menjaga kelestarian bumi kita.

 

            Dalam gagasan tersebut, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu aspek ekonomi yang direfleksikan dalam kondisi financial-nya saja, namunjuga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya.

                  2.   Konsep empat dasar pendekatan sosial (Amin,2008:66-67)

Seperti yang diilustrasikan sebagai berikut, empat sikap (pendirian) yang dapat diambil oleh suatu organisasi berkaitan dengan kewajibannya kepada masyarakat, berkisar dari tingkatan terendah hingga tertinggi dalam praktik – praktik tanggung jawab sosial.

a.   Sikap obstruktif. Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang melibatkan tindakan seminimal mungkin dan mungkin melibatkan usaha – usaha menolak atau menutupi pelanggaran yang dilakukan.

a.       Sikap defensif. Pendekatan tanggung jawab sosial yang ditandai dengan perusahaan hanya memenuhi persyaratan hukum secara minimum atas komitmennya terhadap kelompok atau individu dalam lingkungan sosialnya.

c.   Sikap akomodatif. Pendekatan tanggung jawab sosial yang diterapkan suatu perusahaan, dengan melakukannya, apabiladiminta, melebihi persyaratan hukum minimum dalam komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.

d.   Sikap proaktif. Pendekatan tanggung jawab sosial yang diterapkan suatu perusahaan, yaitu secara aktif mencari peluang untuk menyumbang demi kesejahteraan kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Public Relations concept

Public Relations yang biasa disingkat menjadi PR dan biasa kita menyebutnya dengan Humas mulai dikenal oleh masyarakat. Meskipun bidang ini sudah ada sejak dahulu, namun di Indonesia, biang kerja Public Relations ini masih merupakan bidang baru. Ada beberapa tokoh memberikan definisi mengenai bidang ini.

Public Relations menurut Glenn dan Denny Griswold dalam Abdurrahman (2001:26) yaitu ”Suatu fungsi manajemen yang menilai sikap publik, menunjukan kebijaksanaan dan prosedur dari individu atau organisasi atas dasar kepentingan public dan melaksanakan rencana kerja untuk memperoleh pengertian dan pengakuan dari publik”.

Sementara itu, menurut Harlow dalam Effendy (1992:21), Public Relations adalah fungsi manajemen yang khas yang mendukung dan memelihara  jalur bersama bagi komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerjasama organisasi dengan khalayaknya, melibatkan manajemen dalam permasalahan atau persoalan, membantu manajemen memperoleh penerangan mengenai dan tanggap terhadap opini publik, menetapkan dan menegaskan tanggung jawab manajemen dalam melayani kepentingan umum.menopang manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan   perubahan secara efektif dalam penerapannya sebagai sistem peringatan secara dini guna membantu mengantisipasi kecenderungan dan menggunakan penelitian serta teknik-teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai kegiatan utama.

 

 

 

 

Kemudian Harlow dalam Ruslan (2007:7-8) mengatakan, Public Relations adalah fungsi manajemen khas yang mendukung pembinaan dan membangun supaya saling menguntungkan melalui komunikasi, pengertian, penerimaan, dan kerja sama yang baik antara organisasi dengan publiknya.”

Sedangkan Jeffkins (2003:2) menjelaskan bahwa ”Public Relations adalah suatu bentuk komunikasi yang terencana yang berlaku untuk semua jenis organisasi, baik itu yang besifat komersial ataupun non komersial, disekitar publik (pemerintah) maupun privat (pihak swasta), baik kedalam atau keluar antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian”.

 

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, maka dapat penulis simpulkan bahwa Public Relations adalah Suatu fungsi manajemen dalam sebuah perusahaan atau organisasi yang bertugas memelihara komunikasi yang baik antara organisasi dengan publiknya, baik untuk tujuan komunikasi dua arah timbal balik, membangun hubungan baik, maupun komunikasi persuasif searah, yang pada akhirnya bertujuan untuk membangun saling pengertian menghargai, dan dukungan yang baik hingga menciptakan citra positif bagi perusahaan atau organisasi.

Public Relations

Public Relations yang biasa disingkat menjadi PR dan biasa kita menyebutnya dengan Humas mulai dikenal oleh masyarakat. Meskipun bidang ini sudah ada sejak dahulu, namun di Indonesia, biang kerja Public Relations ini masih merupakan bidang baru. Ada beberapa tokoh memberikan definisi mengenai bidang ini.

Public Relations menurut Glenn dan Denny Griswold dalam Abdurrahman (2001:26) yaitu ”Suatu fungsi manajemen yang menilai sikap publik, menunjukan kebijaksanaan dan prosedur dari individu atau organisasi atas dasar kepentingan public dan melaksanakan rencana kerja untuk memperoleh pengertian dan pengakuan dari publik”.

Sementara itu, menurut Harlow dalam Effendy (1992:21), Public Relations adalah fungsi manajemen yang khas yang mendukung dan memelihara  jalur bersama bagi komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerjasama organisasi dengan khalayaknya, melibatkan manajemen dalam permasalahan atau persoalan, membantu manajemen memperoleh penerangan mengenai dan tanggap terhadap opini publik, menetapkan dan menegaskan tanggung jawab manajemen dalam melayani kepentingan umum.menopang manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan   perubahan secara efektif dalam penerapannya sebagai sistem peringatan secara dini guna membantu mengantisipasi kecenderungan dan menggunakan penelitian serta teknik-teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai kegiatan utama.

 

 

 

 

Kemudian Harlow dalam Ruslan (2007:7-8) mengatakan, Public Relations adalah fungsi manajemen khas yang mendukung pembinaan dan membangun supaya saling menguntungkan melalui komunikasi, pengertian, penerimaan, dan kerja sama yang baik antara organisasi dengan publiknya.”

Sedangkan Jeffkins (2003:2) menjelaskan bahwa ”Public Relations adalah suatu bentuk komunikasi yang terencana yang berlaku untuk semua jenis organisasi, baik itu yang besifat komersial ataupun non komersial, disekitar publik (pemerintah) maupun privat (pihak swasta), baik kedalam atau keluar antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian”.

 

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, maka dapat penulis simpulkan bahwa Public Relations adalah Suatu fungsi manajemen dalam sebuah perusahaan atau organisasi yang bertugas memelihara komunikasi yang baik antara organisasi dengan publiknya, baik untuk tujuan komunikasi dua arah timbal balik, membangun hubungan baik, maupun komunikasi persuasif searah, yang pada akhirnya bertujuan untuk membangun saling pengertian menghargai, dan dukungan yang baik hingga menciptakan citra positif bagi perusahaan atau organisasi.