Budaya Betawi

 

Sekedar Berbagi…. Mudah-mudahan bermanfaat bagi anda yang ingin tahu tentang budaya Betawi

Budaya Betawi terbentuk oleh hasil cipta-rasa-karsa dan sikap-kata-perbuatan Etnik Betawi yang tersusun menjadi kebiasaan dan sistem hidup dalam perspektif sejarahnya. Budaya terbentuk dari beberapa unsur, termasuk di dalamnya adalah bahasa, sistem kepercayaan, adat istiadat, kuliner, pakaian, bangunan, dan karya seni (Pradipta, 2004:36)

Kebudayaan Betawi banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan nusantara maupun asing. Gambang Kromong identik dengan musik Arab, Keroncong Tugu berlatar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor dipengaruhi musik Belanda. Dalam hal upacara pekawinanpun tak lepas dari pengaruh kebudayaan asing, yakni Cina dan Arab. Kesenian Tanjidor atau rebana pengiring arak-arakan penganten pria serta petasan merupakan pengaruh budaya Belanda, Arab, dan Cina. Kenyataan ini menjadikan budaya Betawi  sebagai satu suku yang unik karena keanekaragaman di dalamnya (Fauziah, dkk. 2002: 10).

Menurut Ruchiat dan Singgih (2003: 23-26), dalam kehidupan Etnik Betawi  terdapat berbagai macam kebudayaan dan tradisi antara lain:

Tradisi pada Prosesi Pernikahan Adat Betawi

1) Bawaan Pengantin Pria

Sirih lamaran, maket masjid, kekudung, mahar (mas kawin), pesalinan dan petise merupakan bawaan wajib mempelai pria untuk mempelai wanita. Sirih lamaran melambangkan penghormatan bagi pihak perempuan. Maket masjid merupakan pesan agar mempelai wanita tidak lupa akan kewajiban beribadah. Pesalinan terdiri dari pakaian wanita dan roti buaya. Sedangkan Petise adalah kotak yang berisi sayur mayur atau bahan mentah untuk pesta.

2)            Sepasang Buaya

Satu hal yang selalu dibawa seorang lelaki Betawi saat meminang seorang gadis adalah sepasang roti buaya. Tidak jarang, roti buaya dilengkapi dengan buaya kecil sebagai simbol anak kedua pengantin kelak. Bagi etnik Betawi, buaya adalah simbol kesetiaan dan pasangan yang abadi karena tidak berpoligami dan selalu mencari makan bersama-sama.

3) Arak-arakan Pengantin

Layaknya raja, mempelai pria dikawal saat akan melakukan akad nikah. Keluarga mempelai pria datang dengan rombongan yang membawa seserahan untuk mempelai wanita. Rombongan diiringi ondel-ondel, tanjidor, marawis, dan dua pemuda yang membawa kembang kelapa (lambang kemakmuran) di bagian depan. Rombongan mempelai pengantin pria ini disambut oleh petasan sebagai penanda akan diselenggarakannya suatu hajat besar.

4)            Buka Palang Pintu

Sebelum akad nikah dilangsungkan, mempelai pria harus melewati prosesi “buka palang pintu”. Utusan keluarga pria dan wanita saling berbalas pantun dan adu silat. Prosesi ini merupakan ujian bagi mempelai pria agar diterima menjadi calon suami mempelai wanita.

b. Rumah Khas Etnik Betawi

Ada tiga area di setiap rumah tradisional etnik Betawi, yaitu: kawasan publik (ruang tamu atau amben), kawasan privat (ruang tengah dan kamar atau pangkeng), dan kawasan servis (dapur atau srondoyan). Dalam arsitektur Betawi ada hal yang penting bahkan bisa dikatakan sakral, yaitu Balaksuji. Balaksuji adalah konstruksi tangga yang banyak ditemukan pada jenis rumah panggung. Memasuki rumah lewat tangga berarti melakukan proses menuju kesucian.

1)  Rumah Joglo

Rumah yang memiliki atap yang menjulang ke atas dan tumpul seperti rumah joglo jawa. Terdapat serambi belakang untuk menerima tamu perempuan sedangkan serambi depan untuk menerima tamu laki-laki. Pada rumah joglo, pintu masuk terdapat di samping rumah.

2)  Rumah Kebaya

Rumah tipe kebaya memiliki beberapa pasang atap, bila dilihat dari samping berlipat-lipat seperti lipatan kebaya. Rumah ini melambangkan penduduk Jakarta yang terdiri atas berbagai suku bangsa.

3) Rumah Panggung

Rumah panggung yang terbuat dari kayu adalah satu jenis rumah Etnik Betawi pada sekitar abad 15-16. Konsep rumah ini mirip dengan rumah adat Melayu, yang memiliki fungsi untuk menahan banjir yang sewaktu-waktu datang. Rumah panggung Etnik Betawi banyak ditemukan di daerah yang berawa atau di pesisir pantai Marunda.

4) Rumah Bapang dan Gudang

Bentuk bangunan jenis rumah adalah segi empat polos dan sederhana. Perbedaan terletak pada bentuk atap rumah. Rumah Bapang berbentuk pelana tidak penuh dan lebar. Seangkan Rumah Gudang berbentuk pelana utuh.

 c.  Busana Tradisional

Celana batik dipakai oleh kaum lelaki sedangkan bagi kaum perempuan, kebaya dan kain batik menjadi pakaian sehari-hari. Pada acara-acara resmi seperti perkawinan atau peringatan hari-hari besar, para lelaki umumnya memakai pakaian berjenis jas yang dilengkapi dengan liskol (penutup kepala) dan lockan (ban pinggang) yang terbuat dari bahan batik. Sedangkan para perempuan tetap memakai baju kebaya, selendang panjang yang menutup kepala, serta kain batik. Biasanya dilengkapi dengan peniti rante dan ikat pinggang dari bahan emas atau perak. Gelang listering, serta cincin yang berbentuk belah ketupat merupakan hiasan yang sering dipakai kaum perempuan Etnik Betawi bila harus menghadiri satu acara perkawinan.

d.   Kuliner

Etnik Betawi memiliki aneka jenis makanan tradisional dengan cita rasa yang khas. Di antaranya yaitu: gado-gado, sayur babanci (sayur 1000 bumbu), kerak telor, geplak, serta minuman tradisional bir pletok.

e.      Boneka Maskot Betawi

Satu kesenian rakyat Betawi yang akhirnya menjadi “maskot” kota Jakarta adalah ondel-ondel. Menurut para ahli, boneka raksasa berangka bambu setinggi 2,5 meter ini sudah ada sejak berabad-abad lalu. Dahulu, ondel-ondel dibuat untuk keperluan upacara dan dipercaya memiliki kekuatan gaib yang akan menjaga keselamatan kampung beserta isinya. Upacara bersih desa atau sedekah bumi selalu menampilkan ondel-ondel. Seiring dengan perkembangan zaman, ondel-ondel pun mengalami perubahan fungsi sebagai pemeriah suasana arak-arakan penganten sunat, perkawinan, peresmian, pawai dan tentunya “maskot” DKI Jakarta.

f.       Seni Budaya

Sejak awal, Etnik Betawi sudah sangat heterogen, demikian juga dengan kesenian Betawi yang lahir dari perpaduan berbagai suku bangsa. Dalam bidang seni musik, Betawi mendapat pengaruh Barat, Tionghoa (Cina), Arab, Melayu, Sunda, dan lain-lain. Meskipun terdapat pengaruh budaya luar, warna musik yang dihasilkan atau dimainkan tetap khas budaya Betawi.

Selain seni musik, budaya Betawi juga memiliki seni tari seperti tari Samra, Cokek, Zapin dan Blenggo. Sedangkan teater Betawi adalah tontonan berlakon yang bersifat kerakyatan dan bersifat improvisatoris, diiringi musik rakyat Betawi. Teater rakyat Betawi adalah Lenong, Topeng Betawi, Tari Sambrah, dan Wayang Kulit Betawi. Selain itu ada Shahibul Hikayat dan Gambang Rancang yang dapat digolongkan ke dalam teater tutur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s